Studi tentang vape dan diabetes yang ramai diberitakan belakangan ini tidak menyimpulkan bahwa rokok elektrik aman dari risiko kesehatan. Meta-analisis yang dipimpin akademisi Riccardo Polosa justru menemukan pengguna vape eksklusif memiliki peluang lebih tinggi mengalami prediabetes dan resistensi insulin dibandingkan orang yang tidak pernah menggunakannya.
Perdebatan muncul setelah sejumlah pemberitaan menonjolkan kesimpulan bahwa vape tidak terbukti menyebabkan diabetes. Di sisi lain, peneliti kesehatan masyarakat mempertanyakan keterbatasan metode studi dan potensi konflik kepentingan di balik riset tersebut.
Hasil studi vape tidak menghapus risiko kesehatan
Penelitian berjudul Association between electronic cigarette use and prediabetes, diabetes, and insulin resistance: a systematic review and meta-analysis diterbitkan di jurnal Internal and Emergency Medicine pada Juni 2026. Polosa dari Universitas Catania, Italia, memimpin penelitian bersama Yusuf Adebayo, David Campagne, Antonio Ceriello, dan 15 peneliti lainnya.
Tim menggabungkan 10 studi observasional yang melibatkan 2,8 juta peserta dewasa. Hasilnya menunjukkan pengguna vape eksklusif memiliki peluang lebih tinggi mengalami prediabetes dan resistensi insulin dibandingkan mereka yang tidak pernah menggunakan vape.
Temuan itu perlu dibaca secara utuh. Tidak ditemukannya bukti yang cukup untuk menyatakan vape menyebabkan diabetes bukan berarti penggunaan vape tidak berhubungan dengan perubahan kesehatan, apalagi membuktikan produk tersebut bebas risiko.
Pemberitaan berangkat dari siaran pers asosiasi vape
Sejumlah media nasional pada 9 Oktober 2026 memberitakan bahwa vape tidak terbukti menyebabkan diabetes. Berdasarkan penelusuran Prohealth, narasi tersebut bersumber dari siaran pers Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI), dan pemberitaan yang beredar dinilai hanya menyoroti satu sisi hasil penelitian.
Riset itu menjadi sorotan setelah Ketua Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menyampaikan pernyataan di Istana Negara pada 29 September 2026. Ia menyebut pengujian BRIN menemukan dampak vape terhadap kesehatan, termasuk masalah diabetes, paru-paru, dan pankreas. Dalam pernyataan kepada media, Arif menyebut angka 100 persen pada sampel yang diuji.
“Vape ini secara medis, dari uji yang dilakukan oleh BRIN, berdampak pada kesehatan. Satu masalah diabetes, kemudian masalah paru-paru, ketiga masalah pankreas. Dari uji-uji yang dilakukan oleh BRIN vape itu punya dampak kesehatan,” kata Arif.
Pernyataan itu disampaikan setelah Arif bersama rombongan BRIN, BNN, dan Menteri Hukum Supratman Andi Agtas bertemu Presiden Prabowo Subianto. Pertemuan berlangsung di tengah rencana pelarangan total vape karena produk tersebut kerap disalahgunakan sebagai sarana penyebaran narkoba.
APVI, Perkumpulan Pengusaha Elektronik Indonesia (PPEI), dan Asosiasi Ritel Vape Indonesia (ARVINDO) kemudian meminta BRIN menjelaskan temuan tersebut. Ketua APVI mengatakan pihaknya tidak menolak adanya risiko kesehatan, tetapi meminta hasil pengujian dijabarkan agar kesimpulannya tidak melampaui bukti ilmiah.
“Kami ingin tahu parameter ujiannya seperti apa, dan indikator metaboliknya seperti apa. Apakah istilah diabetes yang digunakan dalam pemberitaan benar-benar merujuk pada diagnosis penyakit diabetes atau hanya menunjukkan perubahan indikator metabolik tertentu,” ujarnya.
Keterbatasan metode dan pertanyaan soal pendanaan
Project Lead for Tobacco Control Center CISDI, Beladenta Amalia, menilai studi Polosa perlu dicermati sebelum dipakai untuk menyatakan vape tidak menyebabkan diabetes. Menurutnya, belum adanya bukti yang menunjukkan hubungan sebab-akibat tidak serta-merta berarti kedua hal itu tidak berhubungan. Keterbatasan bukti ilmiah yang tersedia juga dapat memengaruhi hasil kajian.
Beladenta menyoroti bahwa penelitian tersebut tidak mengumpulkan data lapangan baru, melainkan merangkum studi yang telah terbit. Dari 10 penelitian yang dianalisis, sembilan merupakan studi potong lintang (cross-sectional) dan satu merupakan studi kohort prospektif.
Studi potong lintang mengamati kondisi peserta pada satu periode, sehingga menurut Beladenta metode itu tidak dapat digunakan untuk memastikan hubungan sebab-akibat. Sementara itu, studi kohort prospektif dalam kajian tersebut mengamati subjek maksimal empat tahun—durasi yang dinilainya terlalu singkat untuk melihat perkembangan penyakit kronis seperti diabetes tipe 2.
Beladenta juga mempertanyakan kemungkinan konflik kepentingan. Polosa diketahui mendirikan Center of Excellence for the Acceleration of Harm Reduction (CoEHAR), lembaga yang menerima pendanaan dari Global Action to End Smoking. Yayasan tersebut mendapat dukungan langsung dari perusahaan rokok multinasional Philip Morris International (PMI).
Informasi mengenai afiliasi pendanaan itu menjadi konteks penting dalam menilai hasil riset, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa temuan penelitian keliru. Pembaca perlu melihat metode, hasil, serta sumber pendanaan secara bersamaan. Perdebatan ini juga menunjukkan perlunya penjelasan terbuka mengenai pengujian BRIN, termasuk sampel dan indikator yang digunakan, agar klaim tentang vape dan diabetes dapat dinilai berdasarkan bukti yang jelas.