Informasi yang tersedia belum cukup untuk menyimpulkan bahwa minum minyak zaitun pada pagi hari dapat mencegah lonjakan gula darah. Bahan rujukan yang disertakan justru membahas cuka apel: mulai dari kemungkinan pengaruhnya terhadap gula darah dan kolesterol, hingga risiko jika dikonsumsi berlebihan.
Karena itu, klaim mengenai minyak zaitun tidak dapat dipastikan dari sumber tersebut. Adapun untuk cuka apel, ada penjelasan bahwa kandungan asamnya dapat memperlambat laju makanan meninggalkan lambung dan masuk ke saluran pencernaan bagian bawah. Proses ini dapat memperlambat penyerapan makanan ke aliran darah, sehingga berpotensi membantu mencegah lonjakan gula darah.
Efek cuka apel terhadap penyerapan makanan
Perlambatan pengosongan lambung bukan berarti cuka apel cocok untuk semua orang. Pada penderita diabetes tipe 1, efek tersebut dapat memperburuk gastroparesis, yakni kondisi ketika saraf di perut tidak bekerja dengan baik sehingga makanan bertahan lebih lama di lambung.
Gastroparesis dapat menimbulkan mulas, perut kembung, dan mual. Dengan demikian, pengaruh cuka apel terhadap proses pencernaan perlu diperhatikan, terutama oleh orang yang memiliki kondisi tersebut. Informasi yang tersedia tidak menjelaskan takaran yang aman untuk mencegah lonjakan gula darah.
Asam asetat dalam cuka apel juga dikaitkan dengan penurunan nafsu makan dan peningkatan rasa kenyang dalam penelitian pada manusia maupun hewan. Dampaknya, asupan kalori dapat berkurang. Namun, penurunan nafsu makan atau jumlah makanan yang dikonsumsi juga bisa terjadi karena gangguan pencernaan, sehingga efek itu tidak selalu berarti manfaat.
Penelitian cuka apel dan kolesterol masih terbatas
Selain soal gula darah, cuka apel pernah diteliti terkait kadar kolesterol. Dokter James Brown dari Aston University, Inggris, melakukan dua percobaan terhadap 40 relawan yang mengonsumsi cuka apel secara rutin selama beberapa hari. Dalam laporan penelitian tersebut, kadar kolesterol total terlihat menurun secara signifikan setelah delapan pekan.
Namun, hasil itu memiliki keterbatasan: para relawan tidak memiliki kadar kolesterol jahat yang tinggi. Karena itu, besarnya dampak cuka apel pada orang dengan masalah kolesterol belum dapat dipastikan dari penelitian tersebut.
Dokter Devia Irine Putri menyebut beberapa penelitian menunjukkan cuka apel dapat menurunkan LDL atau kolesterol jahat dan meningkatkan HDL atau kolesterol baik. Meski demikian, temuan tersebut tidak serta-merta menjadikan cuka apel pengganti langkah penanganan yang lebih mapan, seperti memilih makanan yang menyehatkan jantung dan rutin berolahraga.
“Bisa, kalau dari beberapa penelitian, cuka apel bisa menurunkan LDL (kolesterol jahat) dan meningkatkan kolesterol baik (HDL),” ungkap dr. Devia.
Risiko konsumsi berlebihan perlu diwaspadai
Sifat asam cuka apel dapat mengiritasi tenggorokan, memicu heartburn atau nyeri ulu hati, serta mengikis lapisan gigi. Pada sebagian orang, cuka apel juga dapat menimbulkan gangguan pencernaan. Karena itu, klaim manfaatnya perlu ditimbang bersama kemungkinan efek samping, bukan dijadikan alasan untuk mengonsumsi dalam jumlah berlebihan.
Ada pula laporan kasus mengenai kadar kalium rendah dan pengeroposan tulang setelah seseorang mengonsumsi cuka apel dosis besar dalam jangka panjang. Sementara itu, asam dari cuka apel berpotensi menyebabkan luka bakar pada kerongkongan atau tenggorokan jika tertelan secara tidak sengaja. Cuka apel yang sangat asam juga dapat menyebabkan luka bakar bila dioleskan ke kulit.
Bahan rujukan yang tersedia tidak memerinci obat-obat yang dapat berinteraksi dengan cuka apel. Namun, adanya kemungkinan interaksi menjadi alasan untuk berhati-hati, terutama bagi orang yang sedang menggunakan obat atau memiliki kondisi kesehatan tertentu. Konsultasi dengan dokter dapat membantu menilai risikonya sebelum konsumsi rutin.
Pola hidup tetap menjadi pilihan yang lebih aman
Untuk menjaga kesehatan jantung dan kadar kolesterol, sumber rujukan menyarankan makanan kaya omega-3 serta pembatasan lemak jenuh dan lemak trans. Aktivitas fisik rutin selama 30 menit per hari—misalnya jalan cepat, berlari, atau bersepeda—juga dapat meningkatkan kolesterol baik.
Berhenti merokok dan menurunkan berat badan turut menjadi bagian dari upaya tersebut. Berhenti merokok dapat meningkatkan HDL, sedangkan penurunan beberapa kilogram saja disebut dapat membantu mencegah kadar kolesterol jahat menjadi tinggi.
Kesimpulannya, sumber yang tersedia membahas cuka apel, bukan minyak zaitun, sehingga tidak dapat digunakan untuk memastikan klaim bahwa minyak zaitun pagi hari mencegah lonjakan gula darah. Cuka apel pun memiliki kemungkinan manfaat sekaligus risiko. Sebelum menjadikannya kebiasaan, terutama bila memiliki diabetes, gastroparesis, atau sedang mengonsumsi obat, sebaiknya bicarakan lebih dulu dengan dokter.