Saham PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) menyentuh batas auto reject atas (ARA) pada perdagangan Jumat, 23 Oktober 2026, setelah perseroan mengumumkan rencana rights issue senilai sekitar Rp8,2 triliun. Dana penerbitan saham baru itu disiapkan untuk membiayai pengambilalihan dua perusahaan di sektor nikel.
Saham PACK naik 9,78 persen ke level Rp404 per saham. Namun, penguatan harian tersebut belum menghapus tekanan dalam sebulan terakhir: sahamnya masih terkoreksi 27,86 persen. Secara year to date, PACK tercatat menguat 184,51 persen dan masih berada di Papan Akselerasi.
Rencana penambahan modal itu dilakukan melalui Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) II. Dalam aksi korporasi tersebut, PACK berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 100 miliar saham baru, dengan nilai penghimpunan dana sekitar 463 juta dollar AS atau setara Rp8,2 triliun.
Rights issue PACK untuk akuisisi perusahaan nikel
Dari rencana penggunaan dana, Rp1,40 triliun akan dialokasikan untuk mengambil alih PT Bukit Makmur Istindo Nikeltama (Bumanik). Sementara itu, Rp5,74 triliun disiapkan untuk mengakuisisi Denway Development Limited (DDL). Kedua transaksi ini menjadi bagian dari ekspansi PACK ke sektor pertambangan nikel.
Pengambilalihan Bumanik direncanakan berlangsung secara tidak langsung melalui dua anak usaha PACK, yakni PT Daya Unggul Raya dan PT Gemilang Padma Raya. Keduanya akan membeli saham Bumanik dari PT Merlot Grup Indonesia, pemilik 98,99 persen saham, serta Pure Venture Capitol Limited, yang menguasai 1,01 persen.
Bumanik memiliki konsesi tambang bijih nikel seluas 4.778 hektare di Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Dengan transaksi yang direncanakan itu, PACK akan memperoleh akses ke perusahaan yang memiliki konsesi pertambangan di wilayah tersebut.
Adapun untuk DDL, PACK berencana mengambil alih 100 persen saham atau 10.000 lembar saham yang saat ini dimiliki Hanking (Indonesia) Mining Limited. DDL merupakan perusahaan induk investasi yang didirikan di Hong Kong dan memiliki portofolio penjualan serta kepemilikan aset tambang nikel aktif di Indonesia. Dalam prospektus, transaksi DDL dikategorikan sebagai transaksi afiliasi.
Dilusi dan peran pembeli siaga dalam PMHMETD II
Rencana penerbitan hingga 100 miliar saham baru membawa konsekuensi bagi pemegang saham yang tidak menggunakan haknya. Kepemilikan mereka berpotensi terdilusi hingga 74,6 persen. Besarnya potensi dilusi membuat keputusan untuk menebus hak menjadi salah satu hal yang perlu dicermati investor saat aksi korporasi ini berjalan.
PT Eco Energi Perkasa akan menggunakan hak memesan efek terlebih dahulu yang diterimanya sekaligus menjadi pembeli siaga. Perusahaan tersebut juga menjamin pembelian saham baru yang tidak terserap oleh pemegang saham lain, dengan nilai penjaminan maksimal 418 juta dollar AS atau sekitar Rp7,4 triliun.
Jumlah itu merupakan nilai penjaminan dalam skema penerbitan saham baru yang direncanakan PACK. Adapun sisa dana rights issue, setelah alokasi untuk akuisisi Bumanik dan DDL, akan digunakan untuk melunasi pinjaman serta memenuhi kebutuhan modal kerja perseroan dan/atau entitas anak.
Sisa dana hasil rights issue akan digunakan untuk melunasi pinjaman serta memenuhi kebutuhan modal kerja perseroan dan/atau entitas anak, tulis manajemen PACK dalam prospektus.
Persetujuan pemegang saham masih diperlukan
Rights issue tersebut belum menjadi aksi yang tuntas. Rencana PMHMETD II masih memerlukan persetujuan pemegang saham melalui rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB), yang dijadwalkan berlangsung pada 30 November 2026.
Investor akan mencermati perkembangan persetujuan tersebut, rincian pelaksanaan rights issue, serta realisasi rencana akuisisi. Besarnya dana yang dibidik dan potensi perubahan kepemilikan membuat aksi ini menjadi agenda penting bagi PACK, sementara ekspansi ke bisnis nikel akan bergantung pada kelanjutan transaksi yang telah direncanakan perseroan.