Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Mojtaba Hosseini Khamenei menilai konsesi kepada Amerika Serikat tidak akan menghentikan permusuhan terhadap Teheran. Sebaliknya, menurut dia, sikap mengalah dapat mendorong Washington mengajukan tuntutan lebih besar dan meningkatkan tekanan terhadap Iran.
Pandangan itu disampaikan dalam pesan untuk memperingati Hari Nasional Perjuangan Melawan Arogansi Global pada 4 November 2026. Ahlulbait Indonesia melaporkan pesan tersebut dipublikasikan melalui Khamenei.ir. Isinya menempatkan ketahanan Iran pada persatuan nasional, kemampuan pertahanan, kemajuan ilmu pengetahuan, serta kesejahteraan rakyat.
Peringatan itu berangkat dari cara Teheran membaca hubungan panjangnya dengan Washington. Dalam pesan tersebut, pergantian presiden maupun partai yang berkuasa di Amerika Serikat dinilai tidak otomatis mengubah kebijakan negara itu terhadap Iran. Karena itu, Khamenei menyebut perubahan politik di Washington bukan dasar yang cukup untuk mengandalkan perbaikan hubungan.
Ingatan sejarah membentuk sikap Teheran
Salah satu peristiwa yang diangkat adalah kudeta terhadap Perdana Menteri Mohammad Mosaddegh pada 19 Agustus 1953. Khamenei merujuk peristiwa itu sebagai contoh campur tangan asing dalam arah politik Iran. Dalam pandangan yang disampaikan, pengalaman tersebut menjadi bagian dari latar yang membuat Teheran memandang kebijakan Amerika dengan curiga.
Pesan itu juga merangkai sejumlah peristiwa setelah Revolusi Islam 1979. Khamenei menyinggung dukungan Amerika kepada kelompok separatis dan pihak yang merencanakan kudeta, sokongan kepada Mujahidin-e Khalq atau MEK, serta bantuan kepada rezim Baath Irak selama perang Iran-Irak pada 1980 hingga 1988.
Daftar yang disampaikan mencakup pula penembakan pesawat penumpang sipil Iran oleh militer Amerika, sanksi berkepanjangan, dukungan terhadap kerusuhan dan distribusi senjata, pembunuhan Komandan Pasukan Quds Qassem Soleimani, serta penyitaan aset Iran di luar negeri. Semua itu dipakai dalam pesan tersebut untuk mendukung anggapan bahwa tekanan terhadap Iran berlangsung melintasi masa pemerintahan yang berbeda di Amerika.
Uraian itu merupakan pembacaan Teheran atas sejarah hubungan kedua negara. Pesan tersebut tidak menganggap perselisihan semata-mata sebagai masalah diplomatik yang dapat selesai melalui satu kesepakatan atau perubahan pemerintahan. Khamenei memandang tekanan yang berulang sebagai alasan Iran perlu mengandalkan kemampuan sendiri.
Ketahanan negara ditempatkan sebagai jawaban
Dalam pesan yang sama, ancaman terhadap Iran digambarkan melampaui upaya melemahkan pertahanan atau menekan pemerintah. Khamenei menyebut tujuan Amerika, menurut penilaiannya, mencakup pemecahan negara, penundukan rakyat, keruntuhan sistem Republik Islam, hingga penghancuran peradaban Iran. Klaim tersebut menjadi dasar penolakannya terhadap anggapan bahwa konsesi dengan sendirinya akan menjamin keamanan.
Ia juga mengaitkan sikap itu dengan serangan militer langsung terhadap Iran dan korban yang disebut mencakup warga sipil, anak-anak, bayi, orang lanjut usia, ilmuwan, serta komandan militer. Kematian Ayatullah Sayid Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran sebelumnya, turut dicantumkan dalam uraian mengenai kehilangan yang dialami negara itu. Ahlulbait Indonesia melaporkan hal tersebut sebagai bagian dari isi pesan Mojtaba Khamenei.
Di sisi lain, pesan itu menyerukan persatuan nasional dan penguatan berbagai bidang di dalam negeri. Pertahanan diposisikan sebagai salah satu penopang kedaulatan, sementara ilmu pengetahuan dan kesejahteraan rakyat juga disebut sebagai unsur ketahanan. Dengan kerangka tersebut, respons Iran tidak hanya diarahkan pada ancaman militer dari luar, tetapi juga pada kemampuan negara menjaga kekuatan internal.
Selat Hormuz masuk dalam peringatan regional
Khamenei turut menyinggung kehadiran militer Amerika di kawasan Teluk Persia dan posisi strategis Iran di sekitar Selat Hormuz. Ia memperingatkan bahwa pangkalan-pangkalan Amerika dapat menjadi sasaran pembalasan apabila serangan terhadap Iran berlanjut. Kemampuan untuk merespons ditempatkan sebagai bagian dari upaya mencegah agresi berikutnya.
Pernyataan itu membawa dimensi regional karena Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan energi dunia. Namun, klaim mengenai kendali Iran atas selat dan kemampuan menghancurkan pangkalan Amerika merupakan bagian dari pesan Khamenei, bukan konfirmasi independen tentang kondisi militer di lapangan.
Pesan 4 November tersebut, sebagaimana diberitakan Ahlulbait Indonesia, memperlihatkan bahwa Teheran menilai konsesi bukan jalan pasti menuju berakhirnya tekanan. Untuk menjaga kedaulatan, Khamenei menempatkan persatuan dan ketahanan dalam negeri sebagai tumpuan, sementara ancaman balasan diarahkan pada kehadiran militer Amerika di kawasan.