Hasil Pemilu Israel 2026 yang tak memberi satu blok mayoritas memicu seruan agar oposisi bekerja sama dengan partai-partai Arab untuk menyingkirkan Benjamin Netanyahu dari kursi perdana menteri. Sejumlah warga menyampaikan dorongan itu dalam aksi di Tel Aviv, saat para pemimpin oposisi belum sepakat mengenai kemungkinan membentuk aliansi.
Pemungutan suara berlangsung pada 27 Oktober. Menurut laporan detikNews yang mengutip AFP, hasilnya tidak menetapkan pemenang yang jelas. Tak satu pun blok memperoleh mayoritas di parlemen Israel yang memiliki 120 kursi, sehingga pembentukan pemerintahan bergantung pada perundingan antarkelompok politik.
Hitung-hitungan kursi membuka peluang koalisi
Partai-partai yang mayoritas pemilihnya Yahudi dan menentang Netanyahu mengamankan 48 kursi. Sementara itu, Raam dan Joint List, dua partai dengan basis pemilih Arab, meraih total 19 kursi. Jika kedua kelompok bergabung, jumlahnya menjadi 67 kursi.
Angka tersebut secara matematis melampaui ambang mayoritas di parlemen beranggotakan 120 orang. Namun, penjumlahan kursi belum berarti koalisi sudah terbentuk. Kesediaan partai-partai untuk bekerja bersama tetap menjadi persoalan, terutama karena sebagian unsur oposisi menolak gagasan menggandeng partai Arab.
Perbedaan itu membuat hasil pemilu belum langsung menjawab siapa yang akan memimpin pemerintahan berikutnya. Blok yang menentang Netanyahu memiliki peluang mengumpulkan dukungan mayoritas, tetapi peluang itu bergantung pada keputusan politik yang belum diambil. Pemimpin oposisi Gadi Eisenkot, menurut laporan tersebut, belum memastikan apakah ia akan menjajaki kerja sama dengan partai-partai Arab.
Warga Tel Aviv mendesak perubahan
Di jalanan Tel Aviv, sebagian warga menilai kerja sama lintas blok sebagai kesempatan untuk mengakhiri pemerintahan Netanyahu. Ayelet Raz, seorang psikolog berusia 60 tahun yang mengikuti demonstrasi, mengatakan warga Arab seharusnya dapat terlibat dalam kehidupan politik Israel. Komunitas Arab mencakup sekitar 20 persen dari populasi negara itu.
“Ini adalah kesempatan terakhir untuk perubahan nyata,” ujar Ayelet Raz.
Seruan tersebut berangkat dari pandangan bahwa suara partai-partai Arab dapat menentukan arah pembentukan pemerintahan. Dengan gabungan 67 kursi, oposisi secara hitungan memiliki dukungan yang cukup untuk melewati mayoritas. Tetapi dukungan di parlemen harus dibangun lewat kesepakatan, bukan hanya melalui angka hasil pemilu.
Hasil yang diraih Raam dan Joint List juga menunjukkan besarnya dukungan kepada partai-partai berbasis pemilih Arab. Laporan detikNews menyebut kenaikan itu berkaitan dengan kemarahan terhadap retorika pemerintahan sayap kanan Netanyahu yang menyasar komunitas Arab. Informasi tersebut memberi konteks pada desakan warga agar partai-partai itu ikut diperhitungkan dalam pembentukan pemerintahan.
Keputusan Eisenkot masih ditunggu
Meski peluang koalisi terlihat dari hitungan kursi, sikap oposisi belum seragam. Penolakan sebagian partai oposisi menjadi hambatan tersendiri bagi gagasan menyatukan 48 kursi dari partai-partai penentang Netanyahu dengan 19 kursi Raam dan Joint List. Tanpa kesepakatan, angka 67 tetap merupakan kemungkinan, bukan dukungan koalisi yang sudah terwujud.
Posisi Eisenkot menjadi salah satu hal yang masih dinantikan. Ia belum memutuskan apakah akan membuka pembicaraan dengan partai-partai Arab, sementara warga yang turun ke jalan mendesak oposisi tidak menutup pintu kerja sama. Hingga laporan detikNews pada 1 November 2026, belum ada keputusan yang mengubah peluang tersebut menjadi kesepakatan pemerintahan.