Korea Utara menguji rudal balistik taktis yang membawa hulu ledak bom klaster pada Sabtu, 31 Oktober 2026. Pyongyang menyatakan senjata itu dapat menyebarkan daya ledak ke area seluas 12 hingga 13 hektare, klaim yang menambah daftar kemampuan militer yang tengah dikembangkan negara tersebut.
Uji coba itu dilaporkan kantor berita resmi Korea Utara, Korean Central News Agency (KCNA), dan bertujuan mengukur kesiapan penggunaan senjata dalam operasi militer. DetikNews, mengutip AFP, menyebut pengujian tersebut berlangsung sebagai bagian dari latihan untuk meningkatkan kemampuan personel mengoperasikan persenjataan. Kim Jong Un tidak terlihat hadir.
CNBC Indonesia, yang mengutip Reuters, melaporkan pengujian dilakukan oleh lembaga penelitian ilmu pertahanan Korea Utara. Salah satu sistem yang diuji disebut sebagai hulu ledak bom klaster standar Type 2. Pejabat Administrasi Rudal menyebut ada empat kategori hulu ledak, tetapi tidak merinci perbedaan maupun karakteristik tiap kategori.
Klaim daya hancur dan target penggunaan
Besaran 12 hingga 13 hektare merujuk pada area sasaran yang menurut Pyongyang dapat dihantam dengan kepadatan ledakan tertinggi. Angka tersebut berasal dari keterangan pejabat Korea Utara yang dikutip KCNA. Laporan yang tersedia tidak menjelaskan metode pengukuran, kondisi pengujian, ataupun rincian sasaran di lokasi uji.
Bom klaster bekerja dengan melepaskan sejumlah submunisi peledak ke wilayah yang luas. Mengacu pada Asosiasi Pengendalian Senjata, satu senjata jenis ini dapat menyebarkan hingga ratusan submunisi. Karena jangkauannya melebar, bom klaster menimbulkan kekhawatiran serius atas risiko bagi warga sipil, termasuk kemungkinan bahaya dari amunisi yang tidak meledak setelah konflik selesai.
Pyongyang ingin seluruh kategori hulu ledak tersebut dapat digunakan oleh unit militer sebelum akhir 2026. Menurut pejabat Administrasi Rudal yang dikutip KCNA, pasukan akan diarahkan memilih jenis senjata berdasarkan tujuan operasi dan karakter sasaran. Pernyataan itu mengisyaratkan bahwa pengembangan bukan semata uji teknis, melainkan juga persiapan untuk memasukkan persenjataan ke dalam penggunaan militer.
Bom klaster dan aturan internasional
Penggunaan senjata ini menjadi persoalan hukum kemanusiaan internasional. CNBC Indonesia mencatat bom klaster tidak dilarang secara universal, tetapi negara yang menjadi pihak pada Konvensi Bom Klaster 2008 terikat larangan menyeluruh atas senjata tersebut. Bahan yang tersedia tidak menyebut apakah Korea Utara menjadi pihak dalam konvensi itu.
Efek senjata tidak berhenti pada saat ledakan. Submunisi yang gagal meledak dapat tetap membahayakan orang di kawasan sasaran setelah pertempuran usai. Risiko tersebut menjadi salah satu alasan bom klaster dipandang kontroversial, terutama karena area sebarannya luas dan dampak ledakan dapat sulit dibatasi pada sasaran militer.
Foto yang dirilis KCNA memperlihatkan proyektil ditembakkan dari peluncur bergerak. Dokumentasi lain menampilkan dampak ledakan pada sasaran di sebuah pulau. Foto-foto itu merupakan materi yang disebarkan media pemerintah Korea Utara; laporan yang tersedia tidak memuat penilaian independen atas hasil pengujian maupun verifikasi terpisah terhadap klaim luas kerusakan.
Uji senjata berlangsung saat ketegangan meningkat
Uji bom klaster ini menyusul serangkaian kegiatan militer Korea Utara. CNBC Indonesia melaporkan Pyongyang menembakkan sekitar 10 rudal balistik dari pantai timurnya ke arah laut pada 29 Oktober 2026. Rangkaian pengujian dan pameran drone dalam beberapa pekan terakhir dinilai sejumlah analis sebagai bagian dari modernisasi militer negara itu.
Korea Utara juga tengah mendorong pengembangan teknologi nirawak dan kecerdasan buatan untuk kepentingan pertahanan. Laporan Demokratis.co.id mengenai pameran teknologi penerbangan nirawak di Pyongyang menyebut Kim Jong Un meminta penguatan teknologi drone dan integrasi AI. Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa perhatian Pyongyang mencakup persenjataan konvensional maupun sistem nirawak.
Ketegangan di perbatasan Korea Utara dan Korea Selatan turut menjadi latar pengujian. Ledakan ranjau darat di kawasan perbatasan melukai tiga tentara Korea Selatan. Pyongyang membantah bertanggung jawab, sementara pihaknya menyatakan akan memperkuat wilayah perbatasan dan melanjutkan kampanye pengeras suara. Untuk saat ini, target yang disampaikan Korea Utara adalah menyiapkan seluruh jenis bom klaster agar dapat digunakan unit militernya sebelum tahun ini berakhir.