Warung makan, penyewaan perlengkapan mendaki hingga jasa porter tumbuh mengikuti aktivitas pendakian Gunung Kembang di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Bagi warga Desa Damarkasihan dan sekitarnya, ramainya jalur pendakian memberi peluang memperoleh penghasilan dari wisata alam yang dikelola bersama Perhutani.
Pengembangan destinasi ini dijalankan Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kedu Utara bersama Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Binakasih. Kemitraan tersebut menempatkan warga sebagai bagian dari pengelolaan, bukan sekadar masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan.
Suara Desa melaporkan, usaha yang muncul tidak terbatas pada kebutuhan pendaki selama berada di jalur. Warga juga membuka kios sembako dan penginapan, serta menyediakan layanan parkir dan penitipan sepeda motor. Ragam kegiatan itu memberi pilihan usaha bagi masyarakat dengan kemampuan dan modal yang berbeda.
Penghasilan datang dari kebutuhan pendaki
Wisata pendakian menciptakan permintaan atas kebutuhan yang biasanya dicari sebelum atau sesudah perjalanan. Pendaki dapat membeli makanan dan barang keperluan di warung, menyewa peralatan, atau menggunakan jasa porter. Pengelolaan parkir dan penitipan kendaraan pun membuka pekerjaan lain di sekitar titik keberangkatan.
Skala manfaat setiap usaha tentu tidak sama. Namun, bertambahnya pilihan pekerjaan dapat berarti bagi warga desa yang sebelumnya memiliki pilihan ekonomi terbatas. Kegiatan wisata juga memungkinkan warga mengembangkan usaha sesuai keterampilan dan sumber daya yang mereka miliki.
Ketua LMDH Binakasih, Iwan, menilai keterlibatan warga menjadi unsur penting dalam menjaga keberlangsungan destinasi. Ketika masyarakat turut memperoleh manfaat, mereka memiliki ruang untuk ikut menjaga kegiatan wisata dan kawasan tempatnya berlangsung. Warga tidak hanya menyaksikan kedatangan pendaki, tetapi dapat terlibat langsung dalam layanan yang dibutuhkan.
Administratur KPH Kedu Utara, Dimyati, menyampaikan bahwa pola kemitraan diharapkan menghubungkan manfaat ekonomi dengan perlindungan hutan. Menurut dia, potensi Gunung Kembang perlu dikelola secara berkelanjutan agar kegiatan wisata memberi pemasukan bagi warga tanpa mengabaikan keamanan kawasan.
Pertumbuhan wisata perlu diimbangi perlindungan hutan
Namun, peluang ekonomi tidak otomatis menjamin pengelolaan yang berkelanjutan. Bertambahnya kegiatan di jalur dan area wisata juga menuntut perhatian terhadap sampah, pengawasan pendakian, serta perlindungan kawasan hutan. Jika pengelolaan lingkungan tertinggal dari pertumbuhan kunjungan, sumber daya alam yang menjadi daya tarik wisata dapat ikut tertekan.
Karena itu, ukuran keberhasilan tidak cukup hanya dilihat dari banyaknya orang yang datang. Pendapatan warga, kesempatan kerja, dan kondisi kawasan perlu menjadi pertimbangan dalam pengembangan wisata. Suara Desa tidak mencantumkan jumlah pengunjung maupun nilai pendapatan yang diperoleh warga, sehingga besarnya dampak ekonomi Gunung Kembang belum dapat diukur dari angka yang tersedia.
Perhutani KPH Kedu Utara juga disebut mendukung penanaman 515 bibit pohon di Gunung Kembang. Informasi tersebut memberi konteks pada upaya pelestarian kawasan, meski rincian waktu kegiatan dan jenis bibit tidak disebutkan dalam ringkasan pemberitaan. Penanaman pohon berjalan berdampingan dengan kebutuhan untuk mengelola dampak kegiatan wisata sehari-hari.
Kemitraan menjadi tumpuan pengelolaan
Hubungan Perhutani dan LMDH Binakasih menjadi dasar pengembangan wisata di kawasan tersebut. Model ini membuka peluang bagi warga untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi, sementara pengelolaan kawasan tetap melibatkan pihak yang bertanggung jawab terhadap hutan. Tantangannya adalah memastikan pembagian manfaat dan tanggung jawab berjalan seiring.
Pengelola dan masyarakat perlu menjaga agar layanan bagi pendaki berkembang tanpa mengurangi perhatian pada jalur dan lingkungan. Pengelolaan sampah, pengawasan aktivitas, serta perlindungan kawasan merupakan kebutuhan yang disebut dalam pemberitaan, bukan sekadar urusan setelah wisata berkembang.
Gunung Kembang kini menawarkan lebih dari pengalaman mendaki. Destinasi ini juga menjadi ruang bagi warga sekitar untuk mencari penghidupan melalui usaha dan jasa. Perhutani bersama LMDH Binakasih disebut terus mendorong pengelolaan berbasis kemitraan, dengan harapan manfaat ekonomi dapat berjalan seiring dengan kelestarian hutan.