Kementerian Kesehatan meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit pes dengan memantau pelaku perjalanan luar negeri yang menunjukkan gejala mencurigakan. Langkah ini dilakukan di tengah perhatian terhadap kematian Darya Shipilova, pekerja di Institut Penelitian Antipes di wilayah Irkutsk, Siberia, Rusia, yang sebelumnya didiagnosis mengalami pneumonia dengan penyebab belum diketahui.
Shipilova dilaporkan meninggal pada dini hari 2 Oktober di ruang perawatan intensif sebuah rumah sakit distrik di Kota Shelekhov. Kabar tersebut memicu kekhawatiran setelah beredar rumor mengenai kemungkinan paparan patogen penyebab pes di lingkungan tempatnya bekerja.
Kematian peneliti Rusia belum dipastikan terkait pes
Sejumlah laporan media lokal menyebut Shipilova diduga terlibat dalam insiden pecahnya tabung reaksi berisi patogen penyebab pes. Namun, dugaan mengenai insiden itu masih berupa spekulasi yang beredar dan belum dapat dipastikan sebagai penyebab penyakit maupun kematiannya.
Otoritas Rusia melalui Badan Pengawas Perlindungan Hak Konsumen dan Kesejahteraan Manusia (Rospotrebnadzor) menyatakan situasi di wilayah tersebut masih stabil. Meski begitu, sekitar 200 orang sedang dipantau dan menjalani karantina di fasilitas kesehatan di wilayah Irkutsk.
Kemenkes RI menyatakan terus mengikuti perkembangan situasi dan penanganan kasus tersebut. Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, mengatakan belum ada pemberitahuan melalui IHR National Focal Point (IHR NFP) maupun informasi dalam Event Information Site (EIS) WHO yang menetapkan kewaspadaan khusus atas kejadian itu.
“Sampai saat ini, belum ada notifikasi melalui IHR NFP maupun informasi dalam Event Information Site (EIS) WHO untuk kewaspadaan khusus pada kejadian tersebut,” kata Aji dalam keterangan tertulis, Senin (5/10/2026).
Pemeriksaan pelaku perjalanan dilakukan di pintu masuk
Di Indonesia, kesiapsiagaan diperkuat di Balai Karantina Kesehatan, rumah sakit, laboratorium kesehatan masyarakat, serta dinas kesehatan. Pengawasan terhadap pelaku perjalanan juga ditingkatkan di bandara dan pelabuhan internasional di Bali.
Salah satu langkah yang digunakan adalah deklarasi kesehatan melalui All Indonesia-Satu Sehat Health Pass (SSHP). Petugas menganalisis informasi yang disampaikan pelaku perjalanan, termasuk menilai apakah mereka datang dari negara yang sedang mengalami penyakit terkait. Pengamatan tanda dan gejala serta penilaian berbasis risiko terhadap alat angkut turut dilakukan.
Surveilans terhadap tikus dan pinjal pada tikus juga dijalankan di pintu masuk negara. Langkah ini menjadi bagian dari kewaspadaan terhadap pes, yang dapat melibatkan hewan pengerat dan pinjal, sekaligus melengkapi pemeriksaan kesehatan terhadap orang yang melakukan perjalanan.
Jika deklarasi kesehatan atau pemeriksaan menunjukkan adanya gejala yang perlu dicermati, petugas karantina dapat menindaklanjuti status pelaku perjalanan. Kemenkes menyebut pemeriksaan awal dilakukan melalui analisis deklarasi dan pengamatan kondisi kesehatan, bukan hanya berdasarkan asal perjalanan.
Kenali gejala pes dan tindak lanjut pemeriksaan
Pes umumnya diawali demam tinggi yang dapat menyerupai flu. Gejala kemudian bisa berkembang menjadi pembengkakan kelenjar getah bening dan gangguan pencernaan. Pada pes pneumonik, penyakit juga dapat menimbulkan batuk, sesak napas, hingga batuk berdarah.
Apabila petugas menemukan pelaku perjalanan luar negeri yang bergejala dan dicurigai mengarah ke pes, petugas kesehatan di bandara akan melakukan tindak lanjut. Kasus tersebut dapat dirujuk ke rumah sakit rujukan penyakit infeksi untuk pemeriksaan serta penanganan lebih lanjut.
Kemenkes juga mengimbau masyarakat menjaga perilaku hidup bersih dan sehat untuk membantu mempertahankan daya tahan tubuh dan mencegah paparan penyakit menular. Imbauan ini disampaikan bersamaan dengan penguatan pengawasan, sementara informasi mengenai dugaan insiden di Rusia masih perlu dibedakan dari fakta yang telah dikonfirmasi.
Untuk saat ini, langkah pemerintah berfokus pada pemantauan dan deteksi dini di pintu masuk negara serta kesiapan fasilitas kesehatan. Perkembangan situasi akan terus menjadi perhatian, terutama apabila muncul informasi resmi baru dari otoritas terkait atau WHO.