Lucy Guo membangun kekayaan sekitar Rp 26 triliun dari bisnis kecerdasan buatan, tetapi pencapaiannya belum membuat orang tuanya berhenti mencemaskan urusan pribadi. Pendiri Scale AI itu mengaku masih mendapat dorongan dari keluarga untuk mencari pasangan—bahkan diminta mempertimbangkan donor sperma agar mereka bisa segera memiliki cucu.
Perempuan berusia 31 tahun tersebut kini tinggal di Los Angeles bersama dua kucingnya, Chili dan Sega. Kekayaannya, menurut Forbes, mencapai sekitar 1,5 miliar dollar AS. Namun, bagi Guo, status miliarder bukan perubahan paling besar dalam hidupnya. Ia justru menyebut barang promosi gratis sebagai salah satu hal yang paling terasa.
Dari Scale AI hingga kekayaan Rp 26 triliun
Guo mendirikan Scale AI pada 2016, saat berusia 21 tahun, bersama Alexandr Wang yang kini memimpin bisnis AI Meta. Perusahaan itu bergerak di bidang pelabelan data, salah satu unsur penting dalam pengembangan model kecerdasan buatan.
Menurut Guo, perusahaan AI mengalokasikan dana besar untuk data pelatihan karena kualitas model sangat bergantung pada data yang digunakan. Ia menggambarkan persoalannya secara sederhana: jika data menyatakan langit berwarna merah, AI tidak otomatis tahu bahwa informasi itu keliru. Data berkualitas tinggi dibutuhkan agar model dapat menghasilkan informasi yang benar.
Guo meninggalkan Scale AI setelah dua tahun, dengan kepemilikan saham yang diperkirakan sekitar 5 persen. Sebelum dikenal sebagai pengusaha, ia sempat kuliah ilmu komputer di Carnegie Mellon University di Pittsburgh. Ia kemudian keluar dari kampus setelah menerima Thiel Fellowship senilai 100.000 dollar AS.
Perjalanan kariernya juga mencakup magang di Facebook dan pengalaman menjadi desainer perempuan pertama di Snapchat. Guo bertemu Wang ketika mereka sama-sama berada di Quora, sebelum akhirnya membangun Scale AI bersama.
Hari kerja panjang dan sulit menikmati libur
Rutinitas Guo mencerminkan dorongan kuat untuk terus bekerja. Ia biasanya bangun sekitar pukul 05.00, lalu mengikuti dua kelas olahraga di Barry’s Bootcamp. Setelah itu, ia pergi ke kantor seluas lebih dari 2.300 meter persegi dan bisa bekerja sampai pukul 20.00.
Di tengah jadwal tersebut, ia bahkan tidak selalu berhenti untuk makan siang. Makanan dipesan melalui Uber Eats. Pekerjaan masih berlanjut ketika ia pulang, sementara waktu tidurnya bisa berlangsung hingga tengah malam. Pada malam tertentu, ia juga mengaku menari bersama teman-temannya sampai pukul 02.00.
Guo mengatakan ia pernah mencoba pensiun, tetapi tidak berhasil. Baginya, konsep hari libur terasa tidak masuk akal karena ia menyukai aktivitas yang mengasah pikirannya. Ia juga menyebut faktor genetik membuatnya tidak membutuhkan banyak tidur, sembari berterima kasih kepada kedua orang tuanya.
Ketika mendapat gelar miliarder, reaksi pertamanya, menurut pengakuannya, adalah tertawa. Guo mengatakan dampak yang paling terlihat justru ia lebih sering menerima barang gratis. Ia bahkan bercerita baru mendapat empat jenis minyak cabai, makanan yang disukainya.
Passes, bisnis baru untuk para kreator
Setelah meninggalkan Scale AI, Guo kembali membangun perusahaan. Pada 2022, ia mendirikan Passes, platform yang memungkinkan kreator memperoleh pendapatan dari merchandise, siaran langsung, maupun langganan berbayar. Perusahaan tersebut mempekerjakan sekitar 50 orang.
Guo mengatakan dirinya terinspirasi oleh Kylie Jenner dan Jake Paul, yang berhasil membangun merek dengan keuntungan besar. Ia ingin membantu lebih banyak kreator melakukan hal serupa. Passes kerap dibandingkan dengan OnlyFans, tetapi Guo menilai platformnya lebih dekat dengan Patreon, situs berlangganan bagi kreator.
Ia mengaku gembira karena Passes telah membantu banyak kreator menjadi jutawan. Bagi Guo, proyek itu menjadi kesempatan untuk kembali membangun sesuatu setelah meninggalkan Scale AI—sebuah dorongan yang, menurut pengakuannya, sulit ia tahan.
Orang tua ingin Guo segera punya pasangan
Orang tua Guo merupakan imigran dari China yang bekerja sebagai insinyur. Mereka, kata Guo, pernah membayangkan putrinya memiliki pekerjaan bergaji layak, lalu menikah muda. Bahkan, mereka berharap Guo menjadi apoteker agar cukup bekerja tiga hari dalam sepekan dan memiliki empat hari untuk berkencan.
Namun, pilihan Guo jatuh pada ilmu komputer dan dunia perusahaan rintisan. Kini, harapan orang tuanya bergeser pada keinginan memiliki cucu. Guo menceritakan bahwa mereka pernah mengatakan ia mungkin akan melajang selamanya, lalu menyarankan agar ia mencari donor sperma dan melahirkan tiga bayi.
Guo tidak menutupi bahwa situasi itu dapat membuat urusan berkencan terasa rumit. Ia mengatakan orang bisa merasa terintimidasi olehnya dan, menurutnya, pasangan yang cocok perlu memiliki rasa percaya diri yang kuat.
Ia juga mengakui sikap arogan mungkin membuat orang lain tidak nyaman. Namun, Guo memandang keyakinan besar sebagai salah satu karakter yang diperlukan pendiri perusahaan. Menurutnya, membayangkan diri mampu membangun perusahaan bernilai besar memang terdengar berani, tetapi keyakinan itu dibutuhkan untuk mendorong seseorang bekerja keras.
Di tengah kesibukan Scale AI dan Passes, kisah Guo memperlihatkan ketegangan antara pilihan hidup seorang pendiri perusahaan dan harapan keluarganya. Untuk saat ini, ia tampaknya masih lebih bersemangat membangun bisnis daripada mengikuti rencana orang tuanya soal jodoh dan cucu.