Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Arab Saudi Mohammed bin Salman menghadapi tekanan berlapis pada 2026. Serangan Houthi, prospek ekonomi yang memburuk, dan ketidakpastian dukungan Amerika Serikat menghambat ambisinya menjadikan kerajaan itu pusat investasi global.
Penundaan forum Future Investment Initiative (FII), yang kerap dijuluki “Davos in the Desert”, menjadi salah satu tanda paling nyata dari situasi tersebut. Forum yang semula dijadwalkan mulai 26 Oktober 2026 itu baru akan digelar pada 2027, setelah risiko keamanan meningkat akibat serangan di sejumlah lokasi strategis.
Serangan Houthi mengusik citra Arab Saudi
Serangan terhadap bandara di Riyadh dan Abha memperlihatkan bahwa ancaman keamanan telah berdampak langsung pada aktivitas sipil. Pada 6–7 Oktober 2026, serangan di kedua bandara itu menewaskan tiga orang dan melukai 36 lainnya. Serangan di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, pada 10 Oktober kemudian menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang, menurut laporan Reuters yang dikutip CNBC Indonesia.
Tekanan bertambah setelah kantor pusat Saudi Aramco di Dhahran diserang pada 13 Oktober. Gangguan penerbangan, peringatan perjalanan dari sejumlah pemerintah Barat, dan tertundanya acara internasional memperkuat kekhawatiran mengenai keamanan di Arab Saudi.
Bagi Riyadh, persoalannya bukan hanya menjaga infrastruktur dan keselamatan warga. Pemerintah juga harus meyakinkan investor bahwa negara itu tetap menjadi tempat yang aman untuk menanamkan modal, meski konflik regional belum mereda. FII biasanya menjadi ajang pertemuan pemimpin dunia, investor, dan eksekutif perusahaan global untuk membahas peluang bisnis di Saudi. Penundaannya pun menjadi pukulan bagi upaya membangun citra tersebut.
Proyeksi ekonomi memburuk, investasi belum cukup
Tekanan keamanan datang saat agenda transformasi ekonomi belum sepenuhnya mencapai sasaran. Saudi Vision 2030 dirancang untuk mengurangi ketergantungan pada minyak, memperluas peran sektor swasta, dan menarik investasi asing. Namun, arus modal yang masuk masih jauh dari target, sementara sejumlah proyek besar tersendat.
Gambaran ekonomi pun berubah tajam. Dana Moneter Internasional sebelumnya memperkirakan perekonomian Arab Saudi tumbuh 4 persen pada 2026. Proyeksi itu kemudian diturunkan menjadi kontraksi 3,3 persen. Pemulihan pada 2027, menurut laporan tersebut, bergantung pada tercapainya perdamaian di Timur Tengah.
Kondisi ini menyoroti tantangan mendasar yang dihadapi kerajaan: ketergantungan pada minyak dan kebutuhan untuk membangun sumber pertumbuhan yang lebih beragam. Selama investasi asing belum mengalir sesuai harapan, upaya mengurangi ketergantungan itu akan sulit berjalan sesuai ambisi. Krisis keamanan juga menambah alasan bagi calon investor untuk menunda keputusan.
Hubungan dengan Washington jadi taruhan
Ketidakpastian turut datang dari hubungan dengan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump. Riyadh semula berharap investasi besar dan kesepakatan bisnis dapat memperkuat pengaruhnya di Washington. Saudi menjanjikan investasi dalam jumlah besar di AS, termasuk kesepakatan bisnis dengan keluarga Trump. Kerajaan juga membayar lapangan golf milik Trump untuk menggelar turnamen yang didanai Saudi dan menginvestasikan US$2 miliar bersama Jared Kushner, menantu Trump.
Namun, langkah-langkah itu tidak menghentikan perang yang dinilai membawa dampak buruk bagi Saudi. Seorang tokoh Saudi, sebagaimana dikutip dalam laporan, menggambarkan Trump sebagai sosok yang sulit diharapkan setia kepada siapa pun dalam jangka panjang. Ketergantungan pada keputusan Washington dengan demikian menjadi salah satu titik rawan dalam strategi Riyadh.
Risikonya dapat meningkat jika Trump kembali menyerang Iran setelah pemilu sela November. Dalam skenario tersebut, Saudi bisa menghadapi Houthi dari selatan, milisi Irak dari utara, dan Iran dari timur. Persediaan pencegat pertahanan udara yang terbatas juga menjadi perhatian, mengingat luas wilayah kerajaan disebut empat kali luas Prancis.
Posisi MBS kuat, tetapi tantangan belum selesai
Meski krisis menambah beban, posisi politik MBS dinilai tetap kokoh. Para diplomat di Riyadh menilai kekuasaannya kini lebih kuat dibandingkan tujuh atau delapan tahun lalu, ketika ia masih berupaya mengonsolidasikan pengaruh di tengah perang Yaman, blokade Qatar, dan kecaman internasional atas pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi di Istanbul.
MBS telah menyingkirkan para pesaing dan memusatkan kekuasaan. Bahkan, sejumlah kritikus lama perang Yaman mengakui Saudi kini memiliki sedikit pilihan selain melawan Houthi. Namun, konsolidasi politik tidak otomatis menyelesaikan persoalan keamanan maupun ekonomi. Perang Yaman juga telah mengganggu kehidupan masyarakat, sementara MBS relatif tak terlihat sejak serangan mematikan di bandara Riyadh pada 10 Oktober.
Tantangan berikutnya bagi pemimpin Saudi itu adalah membangun fondasi ekonomi dan keamanan yang lebih mandiri. Selama ambisi transformasi masih bergantung pada minyak, arus modal asing, dan keputusan negara lain, konflik regional dapat kembali mengguncang rencana Riyadh. Penundaan FII menjadi pengingat bahwa kepercayaan investor dan rasa aman akan sama pentingnya dengan besarnya proyek yang ditawarkan.