Program Namu Balai Kota resmi dibuka untuk warga pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Kesempatan masuk ke kompleks pemerintahan DKI Jakarta itu menjadi pengalaman baru bagi sebagian pengunjung, termasuk Misi Utami, warga Cilincing, Jakarta Utara, yang selama ini hanya mengetahui ruang-ruang di dalamnya dari televisi.
Utami mengaku senang dapat melihat langsung sejumlah bagian Balai Kota, termasuk ruang rapat yang belum pernah ia masuki. Ia menilai program tersebut memberi kesempatan kepada warga untuk mengenal lebih dekat gedung yang selama ini identik dengan aktivitas pemerintahan.
“Pertama saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Gubernur dan Bapak Wakil Gubernur yang sudah membuka Balai Kota untuk umum. Ini sangat-sangat menyenangkan dan berarti, terutama anak-anak dan warga masyarakat pada umumnya. Karena yang tadinya kita nggak tahu jadi tahu,” kata Utami.
Baginya, suasana di dalam kompleks itu berbeda dari bayangan yang terbentuk selama ini. Bangunan dan lukisan yang menghiasi Balai Kota menjadi bagian yang paling berkesan, begitu pula ruang rapat yang sebelumnya terasa sulit dijangkau.
Pengunjung mengenal ruang-ruang Balai Kota
Utami datang bersama sekitar 30 anak Abang None Cilik 2026 dari Lembaga Kebudayaan Betawi. Anak-anak berusia 5 hingga 16 tahun itu, menurut dia, antusias mengikuti kegiatan. Bagi Utami, kunjungan tersebut bukan semata-mata wisata, tetapi juga kesempatan belajar di luar ruang kelas.
“Banyak ya, lukisan-lukisan, bangunan-bangunan, bangunannya jelas antik. Terus, wah, senanglah, ruang rapatnya yang selama ini kita nggak tahu. Mau masuk juga kayaknya takut, ya. Ternyata sedemikian indahnya Balai Kota,” ujarnya.
Program ini memberi akses kepada warga untuk mengikuti tur dan melihat sejumlah ruang yang digunakan dalam kegiatan pemerintahan. Dalam uji coba pada 3 Oktober 2026, pengunjung diajak menyusuri Pendopo, Ruang Tamu Gubernur, pusat pengelolaan Jakarta Smart City, hingga Ruang Pola. Anak-anak juga mendapat kesempatan mencoba menjadi presenter dan reporter cilik di Studio Berita Jakarta.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan pembukaan Balai Kota bagi masyarakat dimaksudkan untuk mendekatkan pemerintah dengan warga. Ia menyebut gedung tersebut bukan hanya tempat aparatur bekerja, melainkan juga bagian dari sejarah panjang Jakarta.
“Melalui Namu Balai Kota, kami ingin membuka kesempatan bagi warga untuk datang, berinteraksi, dan melihat secara langsung bagaimana pemerintah bekerja melayani kebutuhan mereka,” kata Pramono.
Namu Balai Kota juga menghadirkan layanan publik
Kegiatan di Balai Kota tidak hanya berisi tur. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga menghadirkan Mini Mal Pelayanan Publik, dengan sejumlah layanan yang dapat diakses pengunjung, antara lain layanan paspor dari Direktorat Jenderal Imigrasi, SIM Keliling, Samsat Keliling, serta perpustakaan keliling.
Pengunjung juga dapat menjumpai pemeriksaan kesehatan gratis, layanan kependudukan, pelayanan perizinan berusaha, dan pembukaan rekening Bank Jakarta. Dalam rangkaian kegiatan turut disediakan aktivitas pilah sampah serta pelatihan penggunaan alat pemadam api ringan.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno sebelumnya mengatakan Namu Balai Kota dapat menjadi cara bagi masyarakat untuk mengenal sisi lain gedung tersebut. Ia mengajak warga datang bersama keluarga, melihat ruang-ruang Balai Kota, serta menikmati karya seni, kegiatan komunitas, dan kuliner.
Program ini digagas melalui kolaborasi lintas perangkat daerah, dengan Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik DKI Jakarta bersama Jakarta City Branding sebagai penggerak utama. Kepala Diskominfotik DKI Jakarta Marulina Dewi mengatakan ruang pemerintahan dirancang agar bisa dikunjungi dengan suasana yang lebih terbuka dan hangat.
Warga berharap akses terus dibuka dan fasilitas ditingkatkan
Antusiasme warga terlihat dari pengalaman Utami saat mendaftar. Ia mengaku tidak terlalu mahir menggunakan teknologi, tetapi tetap bisa memperoleh tiga tiket melalui pendaftaran daring. Menurutnya, tiket yang cepat habis juga menunjukkan besarnya minat masyarakat untuk mengikuti kegiatan tersebut.
Utami berharap Namu Balai Kota terus dilaksanakan agar lebih banyak warga, termasuk anak-anak, bisa mendapat pengalaman serupa. Ia juga menilai kegiatan ini penting sebagai sarana edukasi, karena pengunjung dapat melihat langsung lingkungan pemerintahan yang sebelumnya hanya dikenal dari luar atau melalui layar televisi.
Di balik sambutan positif itu, Utami menyampaikan catatan mengenai fasilitas bagi penyandang disabilitas. Ia menilai masih ada hal yang perlu dibenahi agar pengunjung disabilitas dapat merasa lebih nyaman. Menurutnya, kekurangan tersebut dapat menjadi bahan evaluasi, terutama karena program masih baru dibuka.
Pada tahap uji coba, kegiatan berlangsung pukul 08.00 hingga 17.00 WIB. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengagendakan Namu Balai Kota berlangsung secara berkala setiap dua minggu sekali pada akhir pekan setelah tahap uji coba dan evaluasi. Kelanjutan program itu akan menentukan seberapa luas warga dapat mengakses ruang publik di pusat pemerintahan tersebut.