Pembalap Moto2 asal Italia, Tony Arbolino, mencuri perhatian di Lombok menjelang MotoGP Mandalika 2026. Ia tampil bak penjual jagung bakar di sebuah pantai, belajar memanggang jagung dan mencoba mengendarai motor gerobak dalam sebuah video yang dibagikan di media sosial.
Aksi tersebut menjadi salah satu cerita di luar lintasan dari gelaran yang berlangsung pada 9–11 Oktober itu. Selama berada di Nusa Tenggara Barat, sejumlah pembalap dan anggota tim juga menyempatkan diri mencicipi makanan Indonesia, dari ketoprak hingga soto ayam.
Arbolino bahkan menyebut jagung bakar sebagai “produk paling laris dari Lombok”. Gaya santainya saat mencoba aktivitas tersebut mengundang respons dari sesama pembalap. Fabio Quartararo, misalnya, meninggalkan emoji tertawa di kolom komentar.
Belajar memanggang jagung di pantai Lombok
Dalam video yang beredar, pembalap tim Reds Fantic Racing itu tampak mencoba proses memanggang jagung. Ia juga menjajal motor gerobak yang biasa digunakan untuk berjualan. Suasana pantai dan aktivitas lokal itu menjadi latar berbeda dari rutinitas Arbolino di sirkuit.
Tak ada keterangan mengenai nama pantai tempat video tersebut dibuat. Namun, aksi itu memperlihatkan sisi lain kunjungan para pembalap ke Lombok: mereka tidak hanya bersiap menghadapi balapan, tetapi juga berinteraksi dengan suasana setempat.
Respons Quartararo menambah kesan ringan pada momen tersebut. Aksi Arbolino pun menjadi sorotan karena mempertemukan dunia balap dengan aktivitas kuliner yang akrab bagi warga lokal. Jagung bakar, yang kerap dijumpai di kawasan wisata, mendadak menjadi “jualan” sang pembalap selama berada di Lombok.
Toprak Razgatlioglu penasaran dengan ketoprak
Pengalaman kuliner lain datang dari Toprak Razgatlioglu. Pembalap Prima Pramac Yamaha asal Turki itu mencicipi ketoprak di Mataram pada Rabu, 7 Oktober 2026, menjelang MotoGP Mandalika.
Toprak mengaku baru mengetahui ada makanan bernama ketoprak. Ia juga terkejut karena nama hidangan itu sama dengan nama panggilannya. Setelah mencicipinya, ia memberi penilaian positif.
“Saya tidak tahu kalau ada makanan bernama ketoprak. Rasanya enak,” tutur Toprak.
Ketoprak yang dicicipinya merupakan hidangan berisi ketupat, tahu, bihun, telur, dan kerupuk, lalu disiram bumbu kacang. Perjumpaan antara nama panggilan Toprak dan makanan tersebut membuat pengalaman kulinernya punya cerita tersendiri.
Nasi goreng dan soto ayam jadi favorit
Maverick Vinales juga bercerita tentang makanan yang ia nikmati selama berada di Lombok. Pembalap Tech 3 KTM asal Spanyol itu menyebut nasi goreng sebagai hidangan favoritnya. Ia turut memuji nachos yang disajikan pihak hotel, serta mengatakan menikmati beragam makanan Indonesia, termasuk hidangan berbumbu yang kadang terasa pedas.
Sementara itu, Pietro Baroni, ofisial tim Moto2, menyukai soto ayam yang dijual di Paddock Cafe. Hidangan tersebut ditawarkan oleh Spesial Soto Boyolali (SSB), warung yang juga menyediakan soto sapi dan sejumlah pelengkap, seperti sosis solo, sate kulit ayam, serta tempe mendoan.
Baroni menilai soto ayam itu enak dan membuat ketagihan. Pembalap Indonesia Veda Pratama dan Mario Suryo Aji juga beberapa kali membeli soto di lapak yang sama selama berada di sana.
Kuliner lokal melengkapi cerita Mandalika
Beragam pengalaman itu memberi warna pada kunjungan para pembalap dan tim ke Lombok. Ada yang mencoba makanan baru, ada pula yang kembali menikmati hidangan favorit. Arbolino memilih cara yang lebih jenaka: belajar memanggang jagung dan merasakan suasana berjualan di pantai.
Di tengah perhatian pada persaingan di lintasan, cerita-cerita sederhana tersebut ikut memperlihatkan kedekatan para tamu dengan kuliner lokal. Bagi Lombok, momen seperti ini menjadi kesempatan untuk mengenalkan sajian dan suasana daerah kepada pengunjung dari berbagai negara.
Pengalaman kuliner para pembalap pun menjadi bagian dari kisah Mandalika di luar balapan. Dari ketoprak hingga jagung bakar, makanan lokal menawarkan cara berbeda untuk mengenal Lombok—satu gigitan, atau satu jagung panggang, dalam satu waktu.