Serangan yang diklaim kelompok Houthi menyasar Bandara Internasional Abha dan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, pada Selasa dan Rabu. Tiga orang tewas dan 36 lainnya terluka dalam serangan yang menambah ketegangan konflik Yaman tersebut.
Otoritas penerbangan sipil Arab Saudi menyatakan kedua bandara menjadi sasaran serangan terhadap fasilitas mereka. Pernyataan yang dikutip AFP pada Kamis (8/10/2026) itu tidak secara langsung menyebut pihak yang bertanggung jawab. Namun, Houthi sebelumnya mengaku melancarkan serangkaian serangan, termasuk menembakkan rudal balistik ke bandara utama di Riyadh.
Korban tewas terdiri atas seorang warga Mesir dan seorang warga Aljazair di Bandara Abha, serta seorang warga Sudan di bandara Riyadh. Otoritas belum merinci identitas para korban luka ataupun tingkat kerusakan fasilitas.
Houthi mengklaim serangan rudal ke Riyadh
Juru bicara militer Houthi Yahya Saree mengatakan kelompoknya kembali menargetkan Bandara Internasional King Khalid dengan rudal balistik pada Rabu. Dalam unggahan di media sosial X, ia mengklaim serangan itu tepat sasaran dan mengganggu lalu lintas udara.
“Angkatan bersenjata kami baru saja menargetkan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dengan rudal balistik. Serangan tersebut tepat sasaran, atas izin Tuhan, dan menyebabkan gangguan terhadap lalu lintas udara,” kata Saree.
Koalisi militer pimpinan Arab Saudi menyampaikan klaim berbeda. Mereka mengatakan rudal yang ditembakkan ke Riyadh berhasil dicegat. Koalisi juga menyatakan telah menghancurkan platform peluncuran rudal balistik yang digunakan dalam serangan tersebut.
Dalam pernyataan melalui X, koalisi mengatakan fasilitas peluncuran itu telah dihancurkan. Meski demikian, rincian mengenai waktu penghancuran maupun dampaknya terhadap kemampuan serangan Houthi tidak dijelaskan dalam laporan tersebut.
Houthi juga mengklaim menyerang Bandara Abha dan Pangkalan Udara King Khalid di Khamis Mushait menggunakan drone dan rudal. Saree menyebut serangan-serangan itu mengenai sasaran. Klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Gangguan penerbangan meluas hingga Aden
Serangan terhadap Bandara King Khalid disebut sebagai yang kedua dalam pekan itu. Situs pelacakan penerbangan Flightradar24 mencatat wilayah udara di sekitar bandara beberapa kali ditutup sementara.
Dampak konflik juga terasa di Bandara Aden, kota yang menjadi ibu kota sementara pemerintah Yaman. Houthi mengaku menyerang konvoi pasokan militer di dekat bandara tersebut. Kantor berita pemerintah Yaman, Saba, turut melaporkan serangan rudal dan drone yang menyasar kawasan itu.
Mengutip otoritas transportasi, Saba menyebut salah satu rudal jatuh dekat landasan pacu hanya beberapa menit sebelum pesawat dari Kairo dijadwalkan mendarat. Pesawat tersebut kemudian dialihkan ke Jeddah, Arab Saudi. Tidak ada keterangan dalam laporan mengenai korban dari insiden di Aden.
Ancaman terhadap penerbangan sipil menjadi perhatian di tengah serangan yang berulang. Pemerintah Amerika Serikat, menurut ringkasan berita yang menyertai laporan, telah mengingatkan warga terkait penerbangan di Arab Saudi ketika ancaman Houthi meningkat.
Pertempuran Yaman kembali berkobar
Houthi menguasai sebagian besar wilayah barat laut Yaman dan berperang melawan pasukan pemerintah yang didukung Arab Saudi. Perang saudara kembali berkobar pada Juli setelah gencatan senjata berlangsung selama empat tahun. Bulan lalu, Houthi merebut seluruh garis pantai barat Yaman di sepanjang Laut Merah, menurut laporan tersebut.
Konflik terbaru telah memaksa lebih dari 200.000 orang mengungsi di dalam Yaman, berdasarkan data Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pada Rabu, bentrokan di wilayah barat menewaskan sedikitnya 62 kombatan, termasuk 37 anggota Houthi, menurut sumber militer dari kedua pihak kepada AFP. Serangan rudal Houthi ke Kota Taiz yang dikuasai pemerintah juga dilaporkan melukai lima warga sipil.
Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional menyatakan pekan ini telah melancarkan serangan balasan besar-besaran. Pemerintah mengklaim pasukannya mendorong Houthi keluar dari sejumlah wilayah strategis di Laut Merah dan kota pelabuhan Mocha. Houthi membantah kehilangan wilayah, sementara sumber militer dari kedua kubu tidak melaporkan perubahan besar di medan perang.
Arab Saudi telah memimpin koalisi yang memerangi Houthi sejak 2015 dan kini kembali mendukung upaya pasukan pemerintah Yaman. Namun, klaim mengenai perkembangan di medan perang masih sulit diverifikasi secara mandiri karena situasi berubah cepat dan akses jurnalis terbatas. Dengan serangan yang telah menjangkau bandara dan mengganggu penerbangan, perkembangan konflik Yaman berpotensi terus berdampak pada keamanan kawasan serta perjalanan udara.