CEO BPI Danantara Rosan Roeslani bertemu Ben Keswick dari Jardine Matheson di Hong Kong pada 20 Oktober 2026 untuk membahas keberlanjutan investasi perusahaan itu di Indonesia. Pertemuan juga menyinggung optimalisasi aset dan peluang ekspansi jangka panjang di sejumlah sektor strategis.
Jardine Matheson merupakan pemegang saham pengendali PT Astra International Tbk. (ASII) melalui anak usahanya, Jardine Cycle & Carriage Limited. Per 30 September 2026, perusahaan tersebut menguasai 50,11 persen saham Astra.
Melalui unggahan Instagram yang dikutip pada Kamis, 22 Oktober 2026, Rosan menyampaikan agenda pembicaraan tersebut. Namun, belum ada rincian mengenai proyek baru, nilai investasi, ataupun kesepakatan khusus yang diumumkan.
“Kami membahas keberlanjutan investasi Jardines di Indonesia, mengoptimalkan aset, serta memperluas ekspansi investasi jangka panjang di berbagai sektor strategis,” ujar Rosan.
Danantara dan Jardine bahas investasi jangka panjang
Pertemuan Rosan dan Keswick berlangsung di tengah dinamika pasar saham Astra serta pertumbuhan penjualan otomotif perusahaan. Hubungan Jardine dengan Astra membuat pembahasan investasi itu turut menjadi perhatian pelaku pasar, meskipun pernyataan yang disampaikan belum menguraikan rencana bisnis secara lebih terperinci.
Agenda optimalisasi aset dan ekspansi investasi menjadi pokok yang disampaikan Rosan. Dari informasi yang tersedia, belum diketahui aset mana yang akan dioptimalkan atau sektor apa yang menjadi sasaran ekspansi. Belum ada pula keterangan tentang jadwal pelaksanaan maupun besaran dana yang akan ditanamkan.
Karena itu, pertemuan tersebut belum dapat disamakan dengan pengumuman proyek atau komitmen investasi baru. Perkembangan berikutnya akan bergantung pada realisasi pembahasan dan informasi lanjutan dari pihak-pihak terkait.
Saham ASII bergerak fluktuatif sepanjang pekan
Dalam periode 19–22 Oktober 2026, saham ASII bergerak tajam. Pada Senin, 19 Oktober, saham ditutup turun 1,43 persen ke Rp4.130. Sehari kemudian, harganya melonjak 8,96 persen menjadi Rp4.500.
Penguatan berlanjut pada Rabu, 21 Oktober, ketika saham naik 1,33 persen ke Rp4.560. Namun, pada Kamis, 22 Oktober, ASII berbalik melemah 2,41 persen dan ditutup di Rp4.450. Meski terkoreksi pada hari terakhir, harga saham itu masih naik sekitar 7,75 persen dibandingkan penutupan Senin.
Nilai transaksi ASII pada Kamis mencapai Rp476,18 miliar, dengan volume 1,06 juta dan frekuensi 22.170 kali. Data Stockbit menunjukkan investor asing membeli saham senilai Rp333,03 miliar dan melepas Rp410,75 miliar, sehingga mencatatkan penjualan bersih sekitar Rp77,72 miliar.
Tekanan jual asing juga tercatat sehari sebelumnya, dengan penjualan bersih Rp32,15 miliar. Sebaliknya, pada 20 Oktober, investor asing membukukan pembelian bersih sekitar Rp160,16 juta. Rangkaian transaksi tersebut menunjukkan bahwa lonjakan harga pada awal pekan diikuti tekanan jual asing pada dua hari berikutnya. Data itu belum memastikan arah pergerakan saham selanjutnya.
Penjualan mobil Astra tumbuh 12,6 persen
Dari sisi operasional, penjualan mobil Astra mencapai 334.987 unit sepanjang Januari hingga September 2026. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), angka itu tumbuh 12,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, ketika penjualan mencapai 297.437 unit.
Penjualan nasional pada sembilan bulan pertama 2026 tercatat 679.018 unit. Dengan demikian, Astra menguasai sekitar 49 persen pasar. Pada periode yang sama tahun lalu, perusahaan menjual 297.437 unit dari total pasar nasional sebanyak 539.006 unit.
Toyota dan Lexus menjadi penyumbang terbesar penjualan Astra, dengan gabungan 198.873 unit. Daihatsu mencatatkan 112.442 unit, Isuzu 22.975 unit, sedangkan UD Trucks membukukan 697 unit.
Astra juga mempertahankan pangsa besar di segmen mobil murah ramah lingkungan atau low cost green car (LCGC). Hingga September 2026, penjualan LCGC Astra mencapai 66.903 unit dari total pasar nasional 83.997 unit, setara dengan pangsa sekitar 80 persen.
Realisasi investasi menjadi perhatian berikutnya
Secara bulanan, penjualan mobil Astra pada September mencapai 36.723 unit secara wholesales, atau sekitar 46 persen dari total penjualan nasional sebanyak 79.538 unit. Angka-angka tersebut memberi gambaran mengenai posisi Astra di pasar otomotif, tetapi tidak dengan sendirinya menentukan arah saham perusahaan.
Investor juga mempertimbangkan valuasi, prospek laba, kondisi pasar, dan arus transaksi. Karena itu, perkembangan saham ASII dan kinerja penjualan perlu dibaca sebagai bagian dari konteks yang lebih luas, bukan sebagai akibat langsung dari pertemuan Rosan dan Keswick.
Untuk saat ini, agenda yang terungkap masih sebatas pembahasan keberlanjutan investasi, optimalisasi aset, dan peluang ekspansi. Pasar akan mencermati apakah pertemuan tersebut diikuti pengumuman konkret serta bagaimana Astra mempertahankan kinerja bisnisnya di tengah dinamika industri otomotif.