Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jatuh ke bawah level 5.000 pada perdagangan Senin, 19 Oktober 2026. Indeks sempat merosot 5,18 persen ke posisi 4.916,60 pada awal perdagangan, menyentuh level yang terakhir terlihat pada periode 2013–2020.
Data Stockbit menunjukkan posisi tersebut mendekati level IHSG pada 6 Juli 2015, ketika indeks melemah 1,33 persen ke 4.916,74. Saat itu, Joko Widodo baru menjalani tahun kedua masa jabatan pertamanya sebagai presiden.
IHSG juga pernah berada di kisaran serupa ketika pandemi Covid-19 mulai mengguncang pasar. Pada 12 Maret 2020, indeks turun 5,01 persen ke level 4.895,75. Sementara itu, pada 2 April 2013, IHSG menguat 0,40 persen dan berada di 4.919,43, yang kala itu menjadi rekor tertinggi.
Penurunan IHSG berlanjut setelah pengumuman MSCI
Pelemahan pada Senin tersebut melanjutkan tekanan pasar setelah pengumuman MSCI pada Jumat, 19 Oktober 2026. Pada pukul 11.30 WIB, IHSG tercatat di level 4.922,17. Sepanjang 2026, indeks telah terkoreksi 43,09 persen, sedangkan kapitalisasi pasar saham Indonesia tercatat sebesar Rp 8.736,59 triliun.
Pergerakan indeks yang sempat berada di bawah 5.000 menandai kemerosotan tajam dibandingkan posisi sebelumnya. Namun, angka pada awal perdagangan dan posisi pukul 11.30 WIB menunjukkan indeks bergerak selama sesi berlangsung, meski masih berada di wilayah yang sangat tertekan.
Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai IHSG masih rawan terkoreksi. Dalam proyeksi yang disampaikan kepada detikcom, ia menyebut area support di 5.092 dan resistance di 5.295 untuk perdagangan Senin.
“Untuk Senin, kami perkirakan IHSG masih rawan koreksi dengan support 5.092 dan resist 5.295,” kata Herditya.
Level support yang disebutkan itu berada di atas posisi IHSG pada awal perdagangan. Proyeksi tersebut menggambarkan besarnya tekanan yang tengah dihadapi indeks, sekaligus menjadi acuan yang dicermati pelaku pasar dalam membaca arah pergerakan berikutnya.
Tiga sentimen yang dicermati investor
MNC Sekuritas menyoroti tiga faktor yang berpotensi memengaruhi gerak IHSG: respons lanjutan terhadap proposal MSCI, posisi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, serta data makroekonomi China. Ketiganya menjadi perhatian karena dapat memengaruhi keputusan investor dan prospek sejumlah sektor di pasar saham.
Menurut Herditya, rupiah yang cenderung tertekan terhadap dolar AS menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Investor juga menanti data produk domestik bruto China. Jika ekonomi China menguat, dampaknya terhadap Indonesia dinilai dapat positif bagi komoditas.
Karena itu, perhatian pasar tidak hanya tertuju pada level indeks yang kembali menembus batas psikologis 5.000. Respons terhadap pengumuman MSCI, arah nilai tukar, dan perkembangan ekonomi China turut menentukan apakah tekanan berlanjut atau mereda.
Rekam jejak memberi konteks, bukan kepastian
Perbandingan dengan 2013, 2015, dan masa awal pandemi memberi gambaran tentang betapa rendahnya posisi IHSG saat ini. Meski berada di kisaran yang pernah tercatat pada periode-periode tersebut, kesamaan level tidak dengan sendirinya berarti kondisi pasar atau penyebab penurunannya sama.
Pada Maret 2020, misalnya, tekanan terhadap pasar berlangsung di tengah merebaknya pandemi Covid-19. Kali ini, bahan yang disampaikan MNC Sekuritas menempatkan pengumuman MSCI, tekanan terhadap rupiah, dan data ekonomi China sebagai faktor yang perlu dicermati. Perbedaan latar tersebut membuat perbandingan historis lebih tepat dipakai sebagai konteks, bukan sebagai prediksi arah indeks.
Dengan IHSG masih rentan terkoreksi dan tiga sentimen utama belum sepenuhnya terjawab, investor akan mencermati perkembangan pasar pada sesi-sesi berikutnya. Pergerakan rupiah, respons terhadap proposal MSCI, dan data ekonomi China menjadi sejumlah petunjuk yang dapat membantu membaca arah pasar, tanpa menghilangkan risiko volatilitas.