Pengaruh China kini dinilai lebih positif daripada Amerika Serikat oleh masyarakat Amerika Latin. Survei Latinobarometro di 17 negara menunjukkan 65 persen responden memandang pengaruh China secara positif, sementara penilaian serupa terhadap AS diberikan oleh 57 persen responden.
Hasil yang dirilis kantor berita AFP pada Jumat (2/10/2026) itu menjadi perubahan penting. Sejak Latinobarometro mulai menggelar survei tahunan pada 1995, baru kali ini China mendapat penilaian lebih baik daripada AS dalam hal pengaruh di kawasan tersebut.
Pada 2020, posisinya masih berlawanan. Saat itu, 60 persen responden menilai pengaruh AS positif, sedangkan China mendapat penilaian positif dari 48 persen responden. Dalam survei terbaru, Kosta Rika dan Republik Dominika menjadi dua negara yang masih memandang pengaruh AS lebih positif dibandingkan China.
Persepsi terhadap China menguat, citra AS menurun
Pergeseran itu berlangsung seiring meluasnya hubungan ekonomi dan diplomatik China dengan negara-negara Amerika Latin. Sebaliknya, perhatian AS terhadap kawasan tersebut dinilai berkurang setelah Perang Irak pada 2003.
Perubahan hubungan tidak hanya terasa lewat perdagangan dan investasi. Produk impor China yang relatif murah juga membuat masyarakat berinteraksi dengan ekonomi China melalui barang-barang yang mereka gunakan sehari-hari.
Direktur Latinobarometro Marta Lagos mengatakan perubahan penilaian terhadap pengaruh China tidak serta-merta sama dengan perubahan citra China sebagai sebuah negara. Menurut dia, negara-negara Amerika Latin juga semakin mendekat kepada kekuatan lain, termasuk Uni Eropa dan Jepang.
“Ini membantu menjelaskan mengapa perubahan persepsi terhadap pengaruh China tidak sepenuhnya sama dengan perubahan citra terhadap China sebagai sebuah negara,” kata Marta Lagos.
Survei Pew Research Center yang dirilis Juli 2026 memberi gambaran tambahan. Di Argentina, Brasil, Chile, Kolombia, Meksiko, dan Peru, pandangan terhadap AS memburuk dalam setahun terakhir, sementara pandangan terhadap China relatif stabil. Artinya, posisi China menguat bukan hanya karena penerimaannya bertambah, tetapi juga karena penilaian terhadap AS menurun.
Kebijakan AS ikut membentuk pandangan publik
Penurunan citra AS terjadi bersamaan dengan perubahan pendekatan Washington setelah Donald Trump kembali menjadi presiden pada 2025. Trump mendorong penguatan pengaruh AS di kawasan melalui gagasan yang disebut “Donroe Doctrine”, gabungan namanya dengan Doktrin Monroe.
Doktrin Monroe diperkenalkan Presiden AS James Monroe pada abad ke-19 untuk menegaskan kepentingan AS di kawasan Amerika. Di bawah Trump, gagasan tersebut kembali menjadi bagian dari cara Washington memandang hubungannya dengan negara-negara di belahan Barat.
Kebijakan terhadap Venezuela menjadi salah satu contoh yang disorot. Operasi AS pada Januari 2026 berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Latinobarometro mencatat mayoritas responden di hampir semua negara yang disurvei mendukung tindakan itu, dengan Argentina sebagai pengecualian.
Dukungan terhadap operasi tersebut tidak otomatis berarti responden menilai Maduro bermanfaat bagi Venezuela. Hanya 35 persen yang menyebutnya memberi manfaat, sementara 28 persen menilainya merugikan. Warga Venezuela termasuk kelompok yang memberikan penilaian positif terhadap pengaruh AS.
Dalam isu campur tangan di negara lain, AS jauh lebih sering dianggap ikut campur dibandingkan China. Namun, AS masih sedikit lebih unggul dalam penilaian terkait kebebasan pribadi. Keunggulan itu mulai menipis seiring berkurangnya jumlah orang yang menilai pemerintah AS menghormati kebebasan pribadi.
China dipandang sebagai mitra ekonomi
Survei Pew juga menemukan bahwa China dipandang sebagai mitra yang dapat diandalkan dan dinilai lebih berkontribusi terhadap perdamaian serta stabilitas dunia. Meski demikian, kepercayaan terhadap pemimpin kedua negara belum sepenuhnya terbentuk. Tak satu pun dari enam negara yang disurvei Pew menyatakan kepercayaan penuh kepada Trump ataupun Presiden China Xi Jinping untuk melakukan hal yang benar.
Di bidang ekonomi, Brasil menjadi salah satu contoh paling jelas tentang meluasnya kehadiran China. Hubungan kedua negara mencakup perdagangan, investasi, kendaraan listrik, teknologi, dan mineral strategis.
Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva mengatakan China dapat menjadi mitra dalam pengembangan mineral penting Brasil. Dalam wawancara dengan siniar Flow yang dikutip South China Morning Post pada Sabtu (3/10/2026), Lula menyebut Brasil tidak ingin terus mengekspor bijih mentah dan ingin mengembangkan pengolahan mineral di dalam negeri.
Perubahan penilaian publik itu menunjukkan bahwa persaingan pengaruh di Amerika Latin tidak hanya berlangsung di tingkat pemerintah. Hubungan ekonomi, kebijakan luar negeri, dan pengalaman masyarakat sehari-hari ikut membentuk cara kawasan tersebut memandang kedua negara. Perkembangan kerja sama, terutama di sektor strategis, akan menjadi salah satu penentu arah hubungan China dan Amerika Latin ke depan.