Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei memperingatkan Amerika Serikat dan Israel agar tidak melancarkan serangan baru. Ia menyatakan angkatan bersenjata dan rakyat Iran akan menentukan kapan serta bagaimana serangan itu dihentikan jika musuh kembali melakukan tindakan militer atau teror.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah muncul ancaman mengenai kemungkinan perang kembali pecah. Seperti dilaporkan detikNews dengan mengutip AFP, Khamenei juga meminta komandan militer Iran merespons setiap tingkat ancaman dengan cepat. Arahan itu tidak membatasi respons pada wilayah tertentu.
Bahasa yang digunakan Teheran memperlihatkan kesiapan menghadapi eskalasi, tetapi belum menjadi konfirmasi bahwa serangan baru telah diputuskan atau akan segera dilakukan. Pada saat yang sama, sejumlah upaya diplomatik masih berlangsung untuk mencegah pertempuran berulang.
Komandan diminta memperbarui daftar target
Pesan Khamenei disampaikan dalam pertemuan dengan sejumlah pejabat militer senior. Pertemuan itu dilaporkan melibatkan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Ali Abdollahi, Panglima Militer Amir Hatami, serta Komandan Garda Revolusi Ahmad Vahidi. Menurut laporan tersebut, ini merupakan pertemuan pertama yang diketahui antara Khamenei dan para komandan itu.
Dalam arahan yang disampaikan kepada mereka, Khamenei meminta agar daftar sasaran Iran diperbarui. Cakupannya, menurut pernyataan yang dimuat di situs pemerintah Iran, meliputi berbagai aset milik pihak yang disebutnya sebagai musuh Amerika-Zionis, baik yang berwujud maupun tidak.
Ia juga menghendaki respons segera dan berdampak terhadap ancaman, tanpa batasan geografis. Pernyataan itu tidak merinci aset apa yang masuk dalam daftar, lokasi sasaran, ataupun bentuk tindakan yang mungkin diambil. Tidak ada pula keterangan tentang waktu pelaksanaan rencana tersebut.
Arahan itu memberi gambaran mengenai kesiagaan yang ingin ditunjukkan pemerintah Iran. Namun, isi pernyataan saja belum menjelaskan apakah daftar sasaran tersebut telah diterapkan dalam rencana operasi tertentu. Informasi yang tersedia hanya menyebut perintah untuk memperbaruinya.
Perundingan berjalan saat ancaman meningkat
Ancaman Khamenei muncul ketika jalur komunikasi diplomatik kembali bergerak. Delegasi Qatar tiba di Teheran pada Jumat untuk berbicara dengan pejabat Iran. Kedatangan itu berlangsung setelah Iran dilaporkan menerima surat dari Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance.
Media Iran menyebut Teheran belum memberikan jawaban atas surat tersebut. Isi surat maupun pokok pembicaraan delegasi Qatar tidak dijelaskan dalam laporan yang tersedia. Karena itu, belum jelas apakah langkah-langkah tersebut akan menghasilkan perundingan langsung atau kesepakatan untuk meredakan ketegangan.
Pemerintah Amerika Serikat juga belum mengumumkan keputusan mengenai tindakan militer lanjutan. Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan Presiden Donald Trump belum menentukan apakah akan menyerang Iran lagi. Rubio menyampaikan pernyataan itu dalam konferensi pers di Atlanta, Georgia, saat menjadi tuan rumah bagi para menteri luar negeri G20.
Rubio menyatakan Amerika Serikat memiliki kemampuan untuk mencapai tujuan militernya bila menghendaki. Namun, ia menegaskan keputusan lanjutan belum dibuat dan tidak diperlakukan secara ringan. Keterangan tersebut memberi batas yang jelas antara kemampuan militer yang diklaim Washington dan keputusan politik yang belum diumumkan.
Trump belum menetapkan langkah berikutnya saat perundingan damai dilaporkan terhenti. Laporan yang dikutip detikNews juga menyebut kemungkinan serangan setelah pemilu paruh waktu Amerika Serikat, tetapi belum ada pengumuman resmi yang mengonfirmasi rencana itu.
Perang sebelumnya bermula pada 28 Februari
Konflik yang menjadi latar ketegangan ini dimulai pada 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran. Iran kemudian membalas dengan serangan ke sejumlah negara di kawasan. Rangkaian tersebut membuat ancaman terbaru Khamenei dipandang dalam konteks perang yang sebelumnya telah meluas.
Khamenei menjadi pemimpin tertinggi setelah ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan Amerika Serikat-Israel pada awal perang. Sejak menjabat, Mojtaba belum terlihat di depan umum, menurut laporan yang dikutip detikNews. Pernyataannya kali ini disampaikan melalui situs pemerintah, bukan dalam penampilan publik.
Perkembangan berikutnya bergantung pada dua jalur yang masih terbuka: keputusan Washington mengenai opsi militer dan tanggapan Teheran terhadap komunikasi yang diterimanya. Sejauh ini, tidak ada keputusan serangan baru dari Trump yang diumumkan, sementara Iran belum dilaporkan menjawab surat dari Vance.