Konflik Yaman antara pasukan pro-pemerintah dan milisi Houthi kembali berkobar di Provinsi Lahj. Di tengah pertempuran yang merambat ke kawasan gurun dan jalur strategis Bab al-Mandab, warga sipil kehilangan rumah serta kesulitan mendapatkan makanan, air, dan tempat berlindung. “Kami ingin perdamaian,” menjadi seruan yang menggambarkan kelelahan mereka menghadapi kekerasan berkepanjangan.
Pasukan pro-pemerintah menunjukkan garis pertahanan baru dari karung pasir di Lahj. Tawfiq Al Haboun, seorang komandan Pasukan Selatan, mengatakan pertempuran berlangsung sengit. Menurut dia, milisi Houthi memiliki penembak jitu, artileri, dan peluncur rudal balistik.
Di kawasan itu, sulit melihat siapa yang unggul. Gurun yang luas menjadi medan pertempuran, sementara posisi pasukan dan dampak bentrokan terus berubah. Al Haboun juga menunjukkan serpihan logam dan serat kaca di kakinya. Ia menyebut luka itu disebabkan drone Houthi yang membawa bahan peledak C4.
Pertempuran di sekitar Bab al-Mandab
Pasukan Selatan merupakan bagian dari aliansi longgar kelompok-kelompok yang bertempur untuk pemerintah Yaman. Pemerintah tersebut diakui secara internasional dan mendapat dukungan Arab Saudi, termasuk melalui skuadron udara. Di sisi lain, Houthi telah lama menjadi kekuatan militer penting di Yaman.
Kelompok Houthi merebut ibu kota Sanaa pada 2014 dalam upaya menggulingkan pemerintah. Setahun kemudian, koalisi negara-negara Arab yang dipimpin Arab Saudi melancarkan operasi untuk mengusir mereka. Serangan udara bertahun-tahun belum berhasil menundukkan Houthi.
Konflik terbaru juga menyoroti perebutan kawasan di sekitar Bab al-Mandab, jalur laut yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Koridor itu penting bagi pelayaran dan ekspor minyak global. Menurut klaim Al Haboun, sekitar 500 milisi Houthi masih berada di dataran tinggi yang menghadap jalur tersebut.
Komandan itu menyatakan pasukan pro-pemerintah telah merebut kembali sekitar 85 persen wilayah di kawasan tersebut. Houthi selama ini membantah kehilangan kendali atas sejumlah wilayah lain, tetapi menurut sumber lokal yang dikutip dalam laporan, bantahan serupa tidak disampaikan untuk kawasan Bab al-Mandab. Klaim mengenai penguasaan wilayah itu belum menjadi gambaran menyeluruh atas situasi di lapangan.
Warga Yaman kehilangan rumah dan kebutuhan dasar
Pertempuran berdampak langsung pada warga yang tinggal di sekitar garis depan. Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) memperkirakan sekitar 200.000 orang telah terusir dari rumah sejak eskalasi konflik dimulai pada awal September. Yaman merupakan negara termiskin di dunia Arab, dan gelombang kekerasan terjadi saat ancaman kelaparan juga membayangi penduduk.
Di antara keluarga yang mencari perlindungan di bawah pepohonan, Aisha menceritakan pengalamannya mengungsi dari rumah di pegunungan Kahboob. Wilayah itu, menurut laporan, dihantam serangan drone Houthi. Aisha mengatakan dirinya telah berada di tempat pengungsian selama 30 hari.
“Saya tidak punya hewan ternak, tidak punya uang, tidak punya air, tidak punya makanan, bahkan tidak punya selimut… kami harus lari, hanya dengan pakaian yang kami kenakan,” kata Aisha.
Kesaksian itu memperlihatkan bagaimana konflik tidak berhenti pada garis depan. Keluarga yang mengungsi harus mencari perlindungan tanpa kepastian kapan dapat pulang, sementara kebutuhan paling mendasar pun sulit dipenuhi. Banyak dari mereka bertahan di ruang terbuka dengan sumber daya terbatas.
Dampak konflik meluas ke kawasan
Situasi di Yaman juga terkait dengan ketegangan yang lebih luas di Timur Tengah. Houthi dinilai sebagai ancaman bagi pelayaran global dan dipandang Arab Saudi sebagai risiko keamanan. Kelompok itu juga menjadi sekutu Iran, rival utama Riyadh di kawasan.
Pada akhir pekan sebelum laporan tersebut, serangan Houthi mengguncang Arab Saudi dan memicu kepanikan di bandara internasional Riyadh. Serangan itu disebut sebagai yang paling mematikan di wilayah Saudi dalam lebih dari satu dekade. Di Yaman, pada hari kunjungan ke garis depan, lima kendaraan militer pro-pemerintah dilaporkan terkena alat peledak buatan yang ditanam Houthi. Jumlah korban tewas maupun luka belum diketahui.
Di rumah sakit militer di Aden, kota pelabuhan yang menjadi pusat pemerintahan yang didukung internasional sejak 2015, para dokter bekerja siang dan malam untuk merawat pejuang pro-pemerintah yang terluka. Rumah sakit dilaporkan kewalahan menerima pasien dari garis depan.
Selama pertempuran terus berlangsung dan kendali atas wilayah strategis belum jelas, warga Yaman akan tetap menanggung akibat paling langsung. Kepastian bantuan, perlindungan bagi keluarga yang mengungsi, dan jalan menuju penghentian kekerasan menjadi kebutuhan mendesak—agar seruan untuk perdamaian tidak sekadar terdengar di tengah gurun.