Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut PT Kaltim Prima Coal (KPC) masih mengajukan izin impor solar, meski pemerintah menyatakan kebutuhan solar nasional telah dipenuhi lewat program B50. Sindiran itu disampaikan di hadapan Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie dalam Rakernas III HIPPI 2026 di Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Senin.
KPC merupakan anak usaha PT Bumi Resources Tbk, bagian dari Grup Bakrie. Bahlil menyebut permintaan impor untuk operasional tambang tersebut sebagai pengecualian yang masih muncul di tengah upaya pemerintah menghentikan impor solar.
“Kemarin aku baca nih, ajukan lagi KPC ini untuk BBM (impor), aku mau coret, aduh kawan lagi gitu loh. Ini beratnya di situ gitu loh,” kata Bahlil dalam acara tersebut.
Bahlil soroti permintaan impor solar KPC
Pernyataan itu disampaikan langsung di hadapan Anindya Bakrie, yang juga merupakan petinggi Bakrie Group. Bahlil kembali menyinggung permohonan KPC dengan nada bercanda, tetapi menegaskan bahwa kebijakan pemerintah mengenai impor solar sudah jelas.
“Jadi solar kita tidak lagi impor, sudah clear, terkecuali perusahaannya Pak Anin untuk tambang. Aku mau coret, aduh kawan lagi ini, tapi kawan ini tidak paham-paham juga,” ujarnya.
Pemerintah menyatakan pasokan solar dalam negeri kini tercukupi melalui B50, yakni bahan bakar dengan campuran minyak sawit hingga 50 persen. Menurut Bahlil, total konsumsi solar nasional mencapai 39 juta kiloliter. Separuh dari volume tersebut berasal dari campuran minyak sawit atau CPO.
Program itu menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar impor. Namun, paparan Bahlil menunjukkan persoalan impor energi belum selesai untuk seluruh jenis BBM maupun seluruh pengguna. Permintaan KPC, khusus untuk kebutuhan operasional tambang, menjadi hal yang ia soroti di tengah klaim berakhirnya impor solar.
Impor BBM masih besar, bensin jadi tantangan
Di luar solar, Indonesia masih mengimpor sekitar satu juta barel BBM per hari. Bahlil mengaitkan kebutuhan tersebut dengan selisih antara produksi dan konsumsi minyak mentah: produksi dalam negeri berada di kisaran 600 ribu barel per hari, sementara konsumsi mencapai 1,6 juta barel per hari.
Kesenjangan juga terlihat pada bensin atau gasoline. Konsumsi bensin di dalam negeri mencapai 40 juta kiloliter per tahun, sedangkan kemampuan produksi nasional baru sekitar 18 hingga 19 juta kiloliter. Kekurangannya masih dipenuhi melalui impor.
Angka-angka itu menjadi alasan pemerintah mendorong pemanfaatan sumber energi domestik, baik dari fosil maupun bahan nabati. Untuk minyak fosil, Bahlil menyebut perlunya meningkatkan lifting. Sementara untuk energi alternatif, pemerintah ingin mengembangkan bahan bakar berbasis bahan baku pertanian.
“Bagaimana caranya agar tidak kita tergantung kepada dunia? Mau tidak mau kita harus mengoptimalkan seluruh potensi sumber-sumber energi kita di dalam negeri, baik berbentuk fosil lewat kenaikan lifting, maupun bagaimana cara kita untuk mendapatkan energi alternatif nabati,” kata Bahlil.
Target E50 mengandalkan bahan baku lokal
Untuk menekan kebutuhan impor bensin, pemerintah mendorong pencampuran etanol dalam bahan bakar dengan sasaran kandungan hingga 50 persen atau E50. Bahlil mengatakan target tersebut disusun dengan berkaca pada penerapan B50, yang menurut pemerintah telah membantu memenuhi kebutuhan solar tanpa impor.
Bahan baku etanol yang disebut Bahlil meliputi tebu, singkong, dan jagung. Ia menilai pengembangan bahan-bahan tersebut dapat membuka peluang bagi kawasan pertumbuhan ekonomi baru, selain menjadi sumber energi alternatif bagi kebutuhan dalam negeri.
“Kita mau dorong etanol, kita mau dorong sampai dengan E50. Belajar daripada solar yang B50, dari B10 sampai B50,” ujarnya.
Peralihan menuju campuran etanol yang lebih tinggi masih bergantung pada pengembangan pasokan bahan baku dan kemampuan produksi. Sementara itu, permintaan impor solar dari KPC memperlihatkan bahwa kebijakan energi nasional juga berhadapan dengan kebutuhan operasional sektor industri. Pemerintah perlu memastikan target pengurangan impor berjalan seiring dengan kecukupan pasokan bagi para pengguna BBM.