Gempa Sukabumi bermagnitudo 5,7 mengguncang perairan selatan Jawa Barat pada Minggu, 11 Oktober 2026, pukul 10.30 WIB. Getaran terasa di sejumlah wilayah pesisir, termasuk Surade, Cibitung, dan Tegalbuleud. BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.
Meski pusatnya berada di laut, guncangan sempat membuat warga terkejut. Andi, salah seorang warga, mengaku terbangun saat sedang tidur karena merasakan rumahnya bergoyang. Getaran itu berlangsung singkat, tetapi terasa cukup kuat baginya.
“Semalam habis begadang, pas lagi tidur tiba-tiba dibangunkan goyangan gempa. Terasa lumayan besar, tapi cepat banget, cuma sekitar dua detik,” kata Andi.
Hingga laporan awal disusun, belum ada catatan kerusakan bangunan maupun korban akibat peristiwa tersebut. Situasi di wilayah terdampak juga dilaporkan terkendali.
Lokasi gempa Sukabumi berada di laut
Dalam keterangan BMKG, pusat gempa berada pada koordinat 8,87 derajat lintang selatan dan 106,41 derajat bujur timur. Episenter terletak di laut, sekitar 209 kilometer barat daya Kabupaten Sukabumi, dengan kedalaman 10 kilometer.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Dr Wijayanto, menyatakan hasil pemodelan menunjukkan gempa itu tidak memicu ancaman tsunami. Dengan demikian, warga tidak perlu merespons peristiwa ini dengan kepanikan, tetapi tetap perlu mengikuti informasi resmi.
Gempa tersebut tergolong gempa dangkal jika ditinjau dari lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya. BMKG menjelaskan, peristiwa ini berkaitan dengan aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia di wilayah selatan Jawa.
Getaran dirasakan di sejumlah wilayah pesisir
Berdasarkan estimasi peta tingkat guncangan atau shakemap, gempa dirasakan dengan intensitas III MMI di beberapa wilayah. Pada skala tersebut, getaran dapat terasa jelas di dalam rumah dan digambarkan menyerupai truk yang sedang melintas.
BMKG mencatat guncangan dirasakan di Surade, Cibitung, dan Tegalbuleud, yang seluruhnya berada di Kabupaten Sukabumi. Pengalaman warga yang merasakan goyangan selama sekitar dua detik sejalan dengan laporan bahwa gempa terasa nyata, meski berlangsung singkat.
Analisis mekanisme sumber BMKG menunjukkan pergerakan gempa berupa geser naik atau oblique thrust. Jenis pergerakan ini berkaitan dengan proses tektonik di kawasan subduksi, tempat satu lempeng bergerak menunjam ke bawah lempeng lainnya.
BMKG belum mencatat gempa susulan
Hingga pukul 10.50 WIB, pemantauan BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempa susulan. Informasi tersebut merujuk pada hasil monitoring yang disampaikan setelah guncangan utama terjadi. BMKG tetap memantau perkembangan aktivitas di wilayah tersebut.
Belum adanya catatan gempa susulan pada pemantauan itu tidak mengubah imbauan agar masyarakat menjaga kewaspadaan. Warga diminta tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh kabar yang sumber maupun kebenarannya tidak jelas.
BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk menghindari bangunan yang retak atau mengalami kerusakan akibat gempa. Informasi terbaru sebaiknya diperiksa melalui kanal komunikasi resmi BMKG, bukan dari pesan berantai atau kabar yang belum terverifikasi.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa gempa di laut dapat dirasakan hingga daratan, sekalipun episenternya berada jauh dari permukiman. Masyarakat di wilayah pesisir selatan Jawa Barat dapat mengikuti pembaruan BMKG dan memahami langkah keselamatan dasar agar dapat merespons informasi kebencanaan dengan tenang.