Rasio price-to-earnings (P/E) di bawah 4 kali menjadi salah satu penanda yang menarik perhatian investor ketika valuasi pasar saham dinilai murah. Kontan menyoroti adanya saham dengan rasio serendah itu. Namun, angka tersebut belum cukup untuk memastikan sebuah saham layak dibeli.
P/E membandingkan harga saham dengan laba per saham. Secara sederhana, rasio itu menggambarkan berapa kali harga yang dibayar investor dibandingkan laba yang dihasilkan perusahaan. Rasio kecil dapat berarti harga saham relatif rendah terhadap laba, tetapi penilaian itu perlu dilihat bersama kondisi bisnis dan kualitas labanya.
Angka P/E di bawah 4 kali memang tampak rendah jika dibaca sendiri. Agar lebih bermakna, investor perlu mengetahui emiten yang dimaksud, periode laba yang digunakan, serta apakah keuntungan tersebut mencerminkan kinerja yang berulang. Rincian itu menentukan apakah rasio rendah mencerminkan harga yang murah atau kondisi lain yang perlu dicermati.
Rasio rendah perlu dibaca bersama kualitas laba
P/E dihitung dengan membandingkan harga saham terhadap laba per saham. Perubahan pada salah satu unsur itu dapat menggeser hasilnya. Harga saham yang turun, misalnya, bisa membuat rasio tampak lebih rendah. Namun, jika laba perusahaan ikut melemah, gambaran valuasinya dapat berubah ketika angka terbaru digunakan.
Laba yang melonjak pada periode tertentu juga perlu diperiksa sumbernya. Jika kenaikan hanya berasal dari kejadian yang tidak berulang, rasio P/E berdasarkan laba tersebut berpotensi memberi kesan terlalu murah. Sebaliknya, laba yang stabil dan ditopang kegiatan usaha yang berkelanjutan dapat memberi konteks berbeda terhadap valuasi rendah.
Karena itu, angka P/E sebaiknya tidak diperlakukan sebagai jawaban tunggal. Investor dapat melihat laporan keuangan untuk memahami sumber pendapatan, perkembangan laba, dan kewajiban perusahaan. Perbandingan dengan perusahaan lain di sektor serupa juga membantu memberi konteks, meski tidak otomatis menentukan saham mana yang lebih menarik.
Harga murah bukan jaminan risiko kecil
Saham yang terlihat murah tetap memiliki risiko. Harga bisa mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap prospek perusahaan, ketidakpastian kinerja, atau persoalan lain yang perlu ditelusuri. Rasio rendah tidak menjelaskan penyebabnya. Investor perlu menguji alasan di balik valuasi itu sebelum mengambil keputusan.
Untuk saham dengan P/E di bawah 4 kali yang disorot Kontan, informasi tentang nama perusahaan dan rincian perhitungan akan dibutuhkan agar angka tersebut bisa dinilai secara lebih utuh. Tanpa mengetahui periode laba yang menjadi dasar rasio, pembaca belum dapat membandingkannya secara setara dengan emiten lain. Angka yang tampak menonjol tetap perlu ditautkan pada data keuangan yang mendasarinya.
Perbandingan juga perlu memakai periode yang sepadan. Menggunakan laba dari waktu yang berbeda atau sumber angka yang tidak sama dapat menghasilkan kesimpulan keliru. Investor sebaiknya memeriksa informasi keuangan terbaru yang tersedia dan membaca bagaimana kinerja perusahaan berubah dari satu periode ke periode berikutnya.
Keputusan investasi tetap perlu bertumpu pada data
Penilaian bahwa pasar saham sudah murah memberi konteks umum, bukan kepastian bahwa semua saham telah berada di harga menarik. Kondisi tiap emiten berbeda. Rasio sebuah perusahaan juga tidak dapat langsung mewakili keseluruhan pasar.
Bagi investor, langkah berikutnya adalah memeriksa laporan keuangan dan mencari penjelasan atas laba yang menjadi dasar P/E. Setelah itu, rasio dapat dibandingkan dengan valuasi emiten sejenis dan dipertimbangkan bersama risiko yang melekat. Pendekatan tersebut membantu menghindari keputusan yang hanya bertumpu pada satu angka.
P/E di bawah 4 kali layak menjadi pintu masuk untuk meneliti lebih jauh, bukan kesimpulan akhir. Sampai informasi tentang emiten dan dasar perhitungannya diperiksa, klaim murah perlu diperlakukan sebagai sinyal awal yang masih membutuhkan verifikasi.