Koreksi tajam di pasar saham membuka peluang bagi investor untuk mencermati saham dengan imbal hasil dividen tinggi. Sejumlah emiten berpotensi menawarkan dividend yield dua digit setelah harga sahamnya turun, meski besaran imbal hasil itu tetap perlu ditimbang bersama kondisi perusahaan dan risiko pasar.
Senior Equity Analyst Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, menilai saham perbankan berkapitalisasi besar mulai menarik setelah mengalami koreksi. Harga yang lebih rendah membuat valuasi saham-saham tersebut terlihat lebih murah, sementara potensi dividend yield yang tinggi menjadi pertimbangan tambahan bagi investor.
Koreksi harga membuka peluang dividend yield
Dividend yield menunjukkan perbandingan dividen per saham dengan harga saham. Karena itu, ketika harga saham turun sementara nilai dividen yang menjadi dasar perhitungan tidak berubah, persentase yield dapat terlihat lebih besar. Inilah yang membuat saham berdividen kembali dilirik saat pasar sedang tertekan.
Namun, kenaikan yield akibat penurunan harga bukan berarti keuntungan investor otomatis membesar. Perhitungan tersebut bergantung pada dividen yang dibagikan, sedangkan keputusan dan jumlah pembagian dividen dapat berubah. Investor perlu membedakan potensi imbal hasil dari pembayaran yang sudah dipastikan perusahaan.
Pertimbangan harga juga tidak dapat dilepaskan dari kinerja dan prospek emiten. Koreksi dapat membuat valuasi lebih menarik, seperti disampaikan Sukarno, tetapi kondisi pasar yang menekan harga tidak dengan sendirinya menjadi tanda bahwa saham telah berada di titik terendah. Dengan demikian, yield tinggi lebih tepat dibaca sebagai salah satu bahan analisis, bukan satu-satunya alasan membeli saham.
Saham perbankan besar jadi perhatian
Menurut Sukarno, saham-saham perbankan dengan kapitalisasi besar mulai menarik setelah terkoreksi. Ada dua sisi yang menjadi perhatian: valuasi yang lebih murah dan peluang mendapatkan dividend yield tinggi. Bahan yang tersedia tidak merinci nama bank maupun besaran yield masing-masing emiten, sehingga peluang tersebut belum dapat disamaratakan ke seluruh saham perbankan.
Bagi investor, kondisi ini menuntut pemeriksaan lebih lanjut terhadap kebijakan dividen dan harga saham yang menjadi dasar perhitungan. Angka yield yang tampak besar bisa berubah seiring pergerakan harga, sementara dividen masa mendatang tidak otomatis sama dengan pembagian sebelumnya. Keputusan investasi pun perlu memperhitungkan kemungkinan bahwa tekanan pasar masih berlanjut.
Gambaran pasar terbaru dalam bahan yang tersedia menunjukkan IHSG menguat 0,94 persen atau 49,47 poin ke level 5.328,36 pada perdagangan Rabu (21/10). Penguatan itu terjadi setelah tekanan jual ekstrem pada pekan sebelumnya dan disebut sebagai technical rebound oleh Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda.
Rebound IHSG belum menghapus risiko
Reza menyebut ketidakpastian terkait MSCI dan arus dana asing masih dapat memengaruhi keberlanjutan penguatan indeks. Pada perdagangan tersebut, investor asing mencatatkan net buy tipis sebesar Rp 12,49 miliar. Data itu memberi konteks bahwa kenaikan IHSG belum serta-merta meniadakan faktor risiko yang sebelumnya membayangi pasar.
Dalam situasi seperti ini, strategi berburu dividen perlu ditempatkan dalam gambaran pasar yang lebih luas. Investor dapat membandingkan potensi yield dengan risiko perubahan harga, sekaligus mencermati apakah dividen yang dibicarakan sudah diumumkan atau masih sebatas potensi. Perbedaan ini penting agar ekspektasi imbal hasil tidak hanya bertumpu pada angka persentase.
Pembayaran TLDN jadi contoh dividen interim
Di luar saham perbankan, PT Teladan Prima Agro Tbk (TLDN) tercatat telah membayar dividen interim tahun 2026 senilai Rp 258,93 miliar dari buku tahun 2026. Pembayaran kepada pemegang saham itu dilakukan pada Kamis (22/10), menurut laporan KONTAN.
Pembayaran TLDN merupakan contoh dividen interim yang telah dilaksanakan, berbeda dari potensi yield yang muncul ketika harga saham terkoreksi. Keduanya perlu dibaca secara terpisah: satu merujuk pada pembagian dividen emiten tertentu, sementara yang lain merupakan peluang yang perlu dianalisis berdasarkan harga serta kebijakan masing-masing perusahaan.
Di tengah pasar yang belum lepas dari risiko, peluang imbal hasil dividen dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan, bukan jaminan hasil. Investor sebaiknya terus mencermati keterbukaan informasi emiten dan perkembangan pasar sebelum mengambil keputusan, terutama ketika perubahan harga dapat membuat perhitungan yield bergerak cepat.