Pevita Pearce dan suaminya, Mirzan Meer, punya cara sederhana untuk menjaga kedekatan: berjalan kaki bersama beberapa kali dalam sepekan, sambil mengobrol tanpa memegang ponsel. Kebiasaan itu tetap mereka lakukan saat berada di rumah maupun ketika bepergian ke tempat baru.
Pevita menceritakan rutinitas tersebut setelah merayakan ulang tahun pernikahan kedua bersama Mirzan di Bali. Baginya, jalan kaki bukan semata kegiatan untuk menikmati suasana. Waktu itu juga menjadi kesempatan bagi keduanya untuk bertukar cerita dan mengetahui kabar satu sama lain.
“Kita quality time-nya bisa yang paling sering kita pasti seminggu beberapa kali harus jalan bareng. Jadi kita jalan di taman, jalan pagi, jalan pas sore sunset,” kata Pevita saat ditemui di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan, Sabtu (24/10/2026).
Jalan pagi hingga menikmati matahari terbenam
Jadwal jalan bersama mereka tidak terpaku pada satu waktu. Pevita menyebut taman, pagi hari, dan sore menjelang matahari terbenam sebagai beberapa pilihan. Suasana yang berbeda memberi ruang bagi pasangan itu untuk menikmati waktu berdua di sela aktivitas sehari-hari.
Yang membuat kegiatan tersebut terasa penting bagi Pevita adalah percakapan yang menyertainya. Ia dan Mirzan berusaha tidak menggunakan ponsel selama berjalan, sehingga perhatian mereka dapat tertuju pada obrolan dan satu sama lain.
“Terus ngobrol saja, kita nggak megang handphone dan kita catch up saja sama kehidupan kita, pemikiran kita. Jadi ya kita quality time penting banget sih buat kita,” tutur Pevita.
Dari penuturan Pevita, kebiasaan itu menjadi cara mereka membahas kehidupan dan pemikiran masing-masing. Tidak ada agenda khusus yang ia ceritakan selain berjalan dan berbincang. Namun, rutinitas tersebut dilakukan beberapa kali dalam sepekan, sehingga waktu berdua punya tempat tersendiri dalam keseharian mereka.
Ponsel yang disimpan selama momen itu juga berarti mereka tidak membagi perhatian dengan perangkat. Pevita menggambarkan quality time tersebut sebagai kesempatan untuk benar-benar saling mengejar kabar, bukan sekadar berada di tempat yang sama. Kebersamaan mereka, dengan demikian, dibangun melalui kegiatan sederhana yang dilakukan berulang.
Kebiasaan kencan tetap dilakukan saat bepergian
Rutinitas berjalan kaki itu tidak berhenti ketika Pevita dan Mirzan meninggalkan lingkungan sehari-hari. Saat bepergian atau mengunjungi tempat baru, keduanya tetap berusaha menyempatkan diri berjalan bersama. Mereka bisa memilih pagi hari atau waktu menjelang matahari terbenam untuk menikmati suasana di lokasi yang dikunjungi.
“Di mana pun kita berada, pasti kita harus pergi jalan. Dan kalau misal kita travelling visit tempat-tempat baru pun kita pasti kayak ‘Kita jalan pagi yuk’ atau ‘Kita jalan pas lagi sunset yuk’,” ujar Pevita.
Keterangan itu menunjukkan bahwa jalan kaki telah menjadi salah satu kebiasaan yang mereka bawa saat bepergian. Bukan hanya aktivitas di sekitar rumah, kegiatan tersebut juga menjadi cara untuk mengenal suasana tempat yang sedang mereka datangi sembari tetap meluangkan waktu berdua.
Pevita tidak menjelaskan apakah mereka selalu memilih rute atau tujuan tertentu. Ia hanya menyebut ajakan untuk berjalan pada pagi hari atau saat matahari terbenam, termasuk ketika berada di tempat baru. Rutinitas itu menjaga pola kebersamaan tetap hadir meski suasana dan lokasi berubah.
Pevita merasa dipahami dan dihargai Mirzan
Di luar kebiasaan mereka menghabiskan waktu bersama, Pevita juga mengungkapkan hal yang membuatnya merasa beruntung memiliki Mirzan sebagai pasangan. Ia menilai suaminya mampu memahami dirinya tanpa harus selalu menerima penjelasan panjang. Bagi Pevita, perhatian seperti itu membuatnya merasa dicintai dan dihargai.
“Oh, sangat dicintai. Dia berusaha untuk memahami aku secara effortlessly sih. Ada banyak hal-hal yang ternyata nggak perlu dijelasin, tapi dia ngerti. Dan itu lumayan priceless buat aku dan sangat meng-appreciate itu,” kata Pevita.
Pevita juga melihat sikap pengertian Mirzan dari cara suaminya memperlakukan orang lain. Menurut dia, Mirzan menunjukkan kasih sayang bukan hanya kepadanya, tetapi juga kepada keluarga, orang-orang di sekitarnya, dan binatang. Ia turut menyebut suaminya sebagai sosok yang mandiri.
Pengalaman yang dibagikan Pevita berpusat pada hal-hal sederhana: berjalan bersama, berbincang tanpa ponsel, serta perhatian yang ia rasakan dalam hubungan mereka. Di tengah kesibukan, kebiasaan kecil itu menjadi cara pasangan tersebut menyediakan waktu untuk saling terhubung. Bagi pasangan lain, cerita ini bisa menjadi pengingat bahwa waktu berkualitas tidak selalu membutuhkan rencana besar—yang penting, ada ruang untuk hadir dan mendengarkan satu sama lain.