Eksekusi mati Christa Pike di Tennessee, Amerika Serikat, dilaporkan tidak berjalan sebagaimana mestinya pada Rabu (30/9) waktu setempat. Terpidana pembunuhan itu disebut masih bernapas dan terdengar mendengkur setelah menerima suntikan zat mematikan, sebelum kemudian dirawat di rumah sakit terdekat menurut pernyataan pengacaranya.
Eksekusi mati Christa Pike berlangsung di Riverbend
Pike dijadwalkan menjalani eksekusi pada pukul 10.00 waktu setempat di Riverbend Maximum Security Institution. Sejumlah saksi, termasuk wartawan, berada di ruang eksekusi ketika prosedur suntik mati dilakukan.
Eksekusi tersebut dilaporkan melibatkan dua kali penyuntikan pentobarbital, obat penenang untuk memperlambat kerja sistem saraf pusat. Namun, pelaksanaan prosedur itu kemudian memunculkan laporan bahwa Pike masih hidup setelah penyuntikan.
John North, jurnalis investigasi dari media lokal WBIR yang menyaksikan kejadian itu, mengatakan, “Tampaknya proses ini tidak berjalan sebagaimana mestinya.” Ia juga menyatakan bahwa saat para saksi meninggalkan gedung, Pike kemungkinan masih hidup.
Saksi mendengar napas keras usai suntik mati
Tujuh jurnalis di ruang eksekusi menyebut Pike, yang berusia 50 tahun, sempat bernyanyi dan bergerak. Ia juga mengeluhkan rasa sakit pada lengannya setelah disuntik.
Keterangan para jurnalis menyatakan Pike masih hidup dan mendengkur ketika petugas penjara mengawal mereka keluar dari ruangan. Catherine Sweeney dari stasiun televisi WPLN mengatakan para saksi mendengar suara dengkuran dan napas yang sangat keras selama hampir satu jam.
Steven Hale dari Nashville Banner mengatakan peristiwa setelah itu berlangsung di balik tirai tertutup ketika Pike masih hidup. Menurut Hale, para saksi masih mendengar napas Pike, tetapi tidak dapat melihat tindakan yang dilakukan di dalam ruang tersebut.
Tayangan livestream salah satu jurnalis juga memperlihatkan ambulans dengan sirene menyala meninggalkan lokasi eksekusi. Belum ada kepastian apakah ambulans itu membawa Pike. Pejabat lembaga pemasyarakatan Tennessee belum memberikan konfirmasi publik mengenai laporan kegagalan eksekusi tersebut.
Pengacara ajukan penundaan eksekusi mati
WVLT melaporkan pengacara Pike mengajukan permohonan penundaan darurat untuk menghentikan eksekusi dan segera memulai tindakan penyelamatan nyawa. Dalam pernyataannya kepada media setempat, tim pengacara menilai situasi itu telah berubah menjadi penderitaan hebat dan pelanggaran atas hak Pike untuk menjalani eksekusi tanpa kekejaman serta penghukuman yang tidak wajar.
Pengacara Pike juga menyampaikan bahwa Tennessee kembali gagal melaksanakan eksekusi mati yang sah secara hukum. Mereka menyatakan Pike sedang dirawat di rumah sakit terdekat, tetapi belum memperoleh informasi tentang kondisinya.
Pada saat-saat akhir, pihak Pike telah meminta penundaan dengan alasan ia memiliki riwayat sebagai korban kekerasan seks, mengalami gangguan stres pascatrauma atau PTSD, serta mempunyai kelainan darah. Menurut argumen pengacara, kondisi tersebut dapat membuat suntik mati memicu penderitaan yang tidak perlu.
PTSD adalah gangguan stres pascatrauma, yaitu kondisi yang dapat muncul setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa traumatis. Sementara itu, pentobarbital dikenal sebagai obat penenang yang dapat memperlambat kerja sistem saraf pusat.
Mahkamah Agung AS sebelumnya menolak permohonan
Mahkamah Agung AS menolak permohonan penundaan eksekusi Pike pada Selasa (29/9) waktu setempat. Jika terlaksana, eksekusi terhadapnya akan menjadikannya perempuan pertama dalam 200 tahun terakhir yang disuntik mati di Tennessee.
Pelaksanaan hukuman mati melalui suntikan merupakan prosedur yang dilakukan dengan pemberian zat melalui injeksi. Dalam perkara ini, laporan para saksi di ruang eksekusi dan pernyataan pengacara menjadi bagian penting dari informasi yang muncul setelah prosedur terhadap Pike dilaksanakan.
Kasus pembunuhan yang menjerat Christa Pike
Pike dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan AS pada 1996 atas tindak pidana pembunuhan yang dilakukan pada 1995. Saat itu, ia berusia 18 tahun.
Bersama kekasihnya, Pike memukul dan membunuh Colleen Slemmer yang berusia 19 tahun di sebuah pusat pelatihan kerja bagi anak-anak muda. Perkara tersebut menarik perhatian nasional setelah jenazah korban ditemukan dengan ukiran Pentagram pada bagian dada. Pentagram kerap dianggap sebagai simbol setan.
Poin Penting
- Eksekusi mati Christa Pike dijadwalkan pada Rabu (30/9) pukul 10.00 waktu setempat di Riverbend Maximum Security Institution.
- Para saksi melaporkan Pike masih bernapas dan terdengar mendengkur setelah suntikan pentobarbital.
- Pengacara menyatakan Pike dirawat di rumah sakit terdekat dan mengajukan permohonan penundaan darurat.
- Mahkamah Agung AS telah menolak permohonan penundaan eksekusi pada Selasa (29/9).
- Pike dijatuhi hukuman mati pada 1996 atas pembunuhan yang dilakukan pada 1995.
Pertanyaan Seputar Eksekusi Mati Christa Pike
Di mana eksekusi mati Christa Pike dilakukan?
Prosedur itu dijadwalkan berlangsung di Riverbend Maximum Security Institution di Tennessee, Amerika Serikat.
Zat apa yang dilaporkan digunakan dalam eksekusi?
Laporan menyebut prosedur tersebut mencakup dua kali penyuntikan pentobarbital, obat penenang untuk memperlambat kerja sistem saraf pusat.
Apa yang dilaporkan para saksi di ruang eksekusi?
Para jurnalis yang hadir menyatakan Pike masih hidup, bernapas, dan mendengkur ketika mereka dibawa keluar dari ruangan.
Mengapa pengacara Pike meminta penundaan?
Permohonan itu mengacu pada riwayat kekerasan seks, PTSD, serta kelainan darah yang menurut pengacara dapat memicu penderitaan tidak perlu dalam prosedur suntik mati.
Perkembangan eksekusi mati Christa Pike berpusat pada laporan saksi mengenai kondisi Pike setelah penyuntikan, permohonan darurat dari pengacaranya, serta perawatan di rumah sakit terdekat sebagaimana disampaikan tim hukum.