Jennifer Coppen menjadi sasaran komentar negatif sejumlah warganet Malaysia setelah Timnas Indonesia memastikan tiket final FIFA ASEAN Cup 2026. Perselisihan itu mencuat di media sosial, menyusul unggahan Jennifer yang merayakan kemenangan suaminya, Justin Hubner, bersama skuad Garuda.
Menurut laporan janalokajournal.id, Indonesia melaju ke final setelah mengalahkan Bangladesh dengan skor 9-2 dalam laga penentu pekan ketiga Grup B, Kamis, 1 Oktober 2026. Pada pertandingan lain, Malaysia menang 6-0 atas Singapura.
Kemenangan besar Indonesia disambut gembira oleh pendukung dan keluarga pemain. Namun, kolom komentar di akun pribadi Jennifer kemudian dipenuhi ejekan yang tidak hanya ditujukan kepadanya, tetapi juga menyasar keluarganya.
Unggahan Jennifer Coppen diserbu komentar
Persoalan bermula setelah Jennifer mengunggah foto bersama Justin di Threads. Ia menyampaikan rasa syukur atas hasil yang diraih sang suami di lapangan. Unggahan itu kemudian menarik komentar dari sejumlah akun yang, menurut laporan, berasal dari Malaysia.
“Ya Allah suamiku terima kasih sudah dengar doaku ya Allah,” tulis Jennifer.
Salah satu komentar mengejek Jennifer dengan menyinggung bau napas. Jennifer membalas sindiran tersebut dengan kalimat, “BAU KEMENANGAN KAK mau coba cium ke?” Komentar lain menyebut Jennifer tidak akan dikenal di Malaysia tanpa Kamari, putrinya.
Balasan Jennifer memicu perhatian lebih luas. Percakapan yang semula berada di kolom komentar unggahan pribadi itu berkembang menjadi perdebatan antarpengguna media sosial, terutama setelah Jennifer menyampaikan penjelasan mengenai awal mula perselisihan.
Jennifer menyebut persoalan berawal dari kritik
Jennifer mengatakan konflik tersebut bermula dari kritik terhadap permainan Justin yang disampaikan warganet melalui platform video pendek TikTok. Kritik itu kemudian dibalas dengan sindiran, yang menurut Jennifer memicu komentar lanjutan dari pengguna media sosial negara tetangga.
Ia mengaku membalas setelah pihak lain lebih dulu memulai. Jennifer juga membantah memiliki masalah dengan masyarakat Malaysia secara umum. Dalam penjelasannya, ia menilai kritik terhadap pemain atau negara tidak seharusnya berubah menjadi serangan pribadi.
“I have nothing against Malaysian people ever, but don’t disrespect our country and players we understand our people disrespect you too, but jangan merasa tersakiti kalo kaliannya sudah yakin ga menyakiti warga indonesia,” ujar Jennifer.
Jennifer turut menyinggung bahwa komentar negatif tidak hanya menyasar dirinya. Ia merasa keberatan ketika putrinya ikut menjadi sasaran ejekan, sebab Kamari tidak terlibat dalam perdebatan mengenai sepak bola maupun pertandingan Timnas Indonesia.
Pembelaan Jennifer untuk putrinya
Dalam unggahan yang sama, Jennifer mengatakan dirinya tidak terlalu memedulikan hinaan yang ditujukan kepadanya. Sikapnya berbeda ketika komentar menyerang seorang anak yang ia anggap tidak bersalah. Ia menyebut tindakan tersebut telah melewati batas.
“Aku mau kalian hujat katain kaya gimanapun percayalah ga masuk di telinga dan hati jadi silahkan saja. Tapi if you hate on a child and innocent child you’re the most disgusting human being ever and you deserve hell and you know i will not forgive you.”
Jennifer juga menyatakan bahwa ia tidak sedang berusaha menjadikan dirinya sebagai korban. Ia menyebut komentarnya sebagai tanggapan atas situasi yang terjadi dan mengatakan telah melalui pengalaman yang lebih berat. Meski demikian, ia menegaskan tidak akan memaafkan orang yang menyerang anaknya.
Kasus ini memperlihatkan bagaimana perdebatan tentang pertandingan dapat bergeser ke ranah pribadi ketika berlangsung di media sosial. Kritik terhadap performa pemain dan balasan antarpengguna kemudian meluas hingga melibatkan pasangan serta anak pemain. Dalam laporan tersebut, Jennifer menyatakan memilih tidak ambil pusing terhadap hinaan yang ditujukan kepadanya dan tetap berfokus pada keluarga serta karier Justin.
Di tengah perhatian terhadap hasil pertandingan dan langkah Indonesia menuju final, respons warganet juga menjadi sorotan. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa dukungan terhadap tim dapat disampaikan tanpa menyerang keluarga atau anak yang tidak berkaitan dengan persaingan di lapangan.