Sepuluh pesawat kargo militer Amerika Serikat dilaporkan mendarat di pangkalan udara Ovda dan Nevatim, Israel, ketika Presiden Donald Trump menerima paparan mengenai pilihan operasi militer terhadap Iran. Namun, pengerahan pesawat dan pembahasan di Gedung Putih belum disertai pengumuman bahwa Washington telah memutuskan melancarkan serangan baru.
Stasiun televisi Israel KAN melaporkan pesawat-pesawat itu tiba di wilayah Negev selatan pada pekan yang berakhir Kamis, 29 Oktober 2026. Informasi tersebut dikutip CNN Indonesia dan detikNews. Pemerintah AS belum memberikan konfirmasi langsung mengenai pengerahan itu, termasuk barang yang dibawa pesawat.
Sejumlah pesawat militer AS lainnya juga disebut bergerak ke pangkalan di Yordania, Arab Saudi, dan Qatar. Laporan tersebut menggambarkan peningkatan aktivitas militer di kawasan, tetapi belum menjelaskan secara terperinci jenis pesawat atau muatan yang dikirim ke masing-masing negara.
Trump menerima paparan opsi operasi
Menurut laporan Wall Street Journal yang dikutip Anadolu Agency dan diberitakan detikNews, Kepala Komando Pusat Militer AS (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, memaparkan pilihan militer terhadap Iran kepada Trump dalam pertemuan di Gedung Putih pada Kamis, 29 Oktober. Pertemuan itu turut dihadiri Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine, serta anggota kabinet lainnya.
Pembicaraan tersebut menyusul diskusi pada Rabu antara para pejabat militer AS dan Wakil Presiden JD Vance. Rangkaian pertemuan berlangsung saat pemerintahan Trump mempertimbangkan kemungkinan operasi baru setelah serangkaian pengeboman pada awal tahun itu. Juru bicara Pentagon dan CENTCOM menolak mengomentari laporan mengenai pertemuan maupun opsi militer yang dibahas.
Sejumlah laporan menyebut Washington telah menyampaikan kepada negara-negara Teluk kemungkinan operasi yang singkat dan terbatas. Wall Street Journal, sebagaimana dikutip Anadolu, memperkirakan aksi itu dapat dilakukan setelah pemilihan sela AS pada 3 November. Meski demikian, laporan yang sama menyebut Trump belum mengambil keputusan akhir.
Waktu pemilihan menjadi bagian dari perkiraan media, bukan kepastian jadwal operasi. CNN Indonesia juga melaporkan bahwa serangan baru mungkin dilakukan setelah pemilu paruh waktu pada November. Hingga informasi tersebut diterbitkan, tidak ada pernyataan resmi AS yang memastikan waktu ataupun sasaran operasi.
Penguatan pertahanan dan risiko balasan
Di samping pergerakan pesawat, AS dilaporkan menambah sistem pertahanan udara, amunisi, dan pasokan lain di Timur Tengah dalam beberapa pekan terakhir. CNN Indonesia menyebut sistem Patriot dipindahkan dari Texas untuk memperkuat pertahanan udara kawasan. Laporan KAN yang dikutip media itu juga menyebut personel AS di lokasi yang dinilai rawan telah diminta menjauh sebagai langkah pencegahan.
Penempatan pesawat di Israel belum menjawab apakah pengiriman tersebut berkaitan langsung dengan rencana serangan atau penguatan perlindungan militer. Muatan pesawat juga belum diketahui. Karena belum ada keterangan resmi, hubungan antara pengerahan itu dan opsi yang dibahas Trump tetap sebatas laporan media.
KAN mengutip seorang pejabat Israel yang mengatakan kedua negara berkoordinasi erat dalam persiapan militer, sembari menegaskan belum ada keputusan. Pejabat itu menyebut Israel dan AS bersiap menghadapi keputusan apa pun yang mungkin diambil Trump. Keterangan tersebut tidak merinci bentuk koordinasi ataupun langkah yang akan diambil kedua pihak.
Ancaman pembalasan turut membayangi kemungkinan operasi. Menurut laporan Wall Street Journal yang dikutip detikNews, Iran memperingatkan akan membalas lebih luas jika diserang kembali. Teheran juga mengancam sasaran terkait AS di kawasan, termasuk pusat data dan infrastruktur yang berkaitan dengan kecerdasan buatan.
CNN Indonesia, dengan mengutip Anadolu Agency, melaporkan kapal induk dan korps marinir AS diperkirakan tiba di Timur Tengah pada November. Kekuatan tambahan itu disebut akan bergabung dengan sekitar 20 kapal perang AS yang telah beroperasi di kawasan. Belum ada rincian lebih jauh mengenai jadwal kedatangan maupun penugasan mereka.
Untuk saat ini, pengerahan aset dan pembahasan opsi militer berjalan bersamaan dengan belum adanya keputusan resmi dari Trump. Perkembangan berikutnya bergantung pada keputusan Gedung Putih serta penjelasan pemerintah AS mengenai tujuan penempatan pesawat dan pasukan tersebut.