Matahari masih berada dalam fase stabil, tetapi persediaan bahan bakarnya tidak tak terbatas. Bintang yang berusia sekitar 4,6 miliar tahun itu diperkirakan akan mengalami perubahan besar ketika hidrogen di pusatnya habis. Dampaknya bagi Bumi tidak menunggu sampai Matahari benar-benar padam.
Perkiraan para astronom memberi dua penanda waktu yang perlu dibedakan. Sekitar lima miliar tahun dari sekarang, Matahari diprediksi mengembang menjadi raksasa merah. Sementara itu, sisa masa hidupnya kerap disebut sekitar 10 miliar tahun. Angka-angka tersebut menggambarkan tahapan evolusi yang berbeda, bukan satu tanggal pasti ketika Matahari mendadak mati.
Fusi hidrogen menjaga Matahari tetap stabil
Matahari menghasilkan energi melalui fusi di bagian intinya. Hidrogen bergabung membentuk helium dan melepaskan energi dalam jumlah besar. Panas dan tekanan dari proses ini membantu mengimbangi tarikan gravitasi yang berusaha memampatkan bintang.
Selama bahan bakar di inti masih tersedia, keseimbangan itu membuat Matahari berada dalam kondisi relatif stabil. Namun, hidrogen yang dapat dipakai untuk fusi tidak akan bertahan selamanya. Ketika persediaan di pusat bintang menipis, keadaan di dalam Matahari berubah dan proses evolusinya memasuki tahap baru.
Informasi yang dikutip CNN Indonesia menyebut Matahari kini masih berada dalam siklus stabil. Para astronom memperkirakan perubahan menuju fase raksasa merah berlangsung sekitar lima miliar tahun lagi, saat hidrogen di inti telah habis terbakar.
Raksasa merah dapat menelan Bumi
Dalam tahap berikutnya, inti Matahari akan menyusut, sedangkan lapisan luarnya membesar. Perhitungan yang dikutip CNN Indonesia dan CNBC Indonesia memperkirakan ukuran Matahari dapat meluas hingga mendekati orbit Mars. Bumi berada di antara planet-planet yang terancam tertelan dalam proses tersebut.
Ancaman bagi kehidupan di Bumi diperkirakan datang lebih awal daripada perubahan itu. Menurut laporan CNBC Indonesia, kecerahan Matahari meningkat sekitar 10 persen setiap satu miliar tahun. Jika kecenderungan tersebut berlanjut, kondisi Bumi bagi kehidupan dapat memburuk jauh sebelum Matahari mencapai fase raksasa merah.
Karena itu, angka lima miliar tahun bukan berarti kehidupan di Bumi akan bertahan aman sampai saat itu. CNBC Indonesia menyebut perkiraan bahwa kehidupan manusia dapat musnah sekitar satu miliar tahun lagi, kecuali manusia mampu mengatasi dampak peningkatan kecerahan Matahari. Perkiraan ini berbicara tentang kelayakhunian Bumi, bukan tanggal pasti berakhirnya manusia.
Perubahan Matahari juga tidak hanya terkait ukurannya. Kajian yang diberitakan CNN Indonesia menyoroti kemungkinan angin Matahari pada masa depan merusak planet, termasuk yang memiliki perlindungan medan magnet. Temuan itu berkaitan dengan penelitian tentang evolusi intensitas Matahari selama miliaran tahun, tetapi tidak mengubah kesimpulan utama bahwa perubahan tersebut berlangsung dalam skala waktu yang sangat panjang.
Dari selubung gas menuju katai putih
Setelah fase raksasa merah, lapisan luar Matahari akan terlepas ke ruang angkasa. Gas dan debu yang terlontar itu membentuk planetari nebula, yakni selubung bercahaya di sekitar inti bintang. Inti yang tersisa kemudian menjadi katai putih.
Kompas.id menggambarkan tahap tersebut sebagai bagian dari proses kematian Matahari yang mulai berlangsung sekitar lima miliar tahun lagi. Setelah selubung luarnya terlempar, inti bintang tidak langsung lenyap. Dalam perkiraan yang dimuat Kompas.id, katai putih membutuhkan sekitar tujuh hingga delapan miliar tahun lagi untuk benar-benar mendingin dan mati.
Contoh tahap akhir bintang seperti itu dapat dilihat pada Nebula Cincin atau Messier 57. Obyek tersebut merupakan sisa bintang yang telah melepaskan lapisan luarnya, sementara katai putih berada di bagian pusat. Kompas.id melaporkan citra terbaru Nebula Cincin diperoleh Teleskop Luar Angkasa James Webb pada 4 Agustus 2022 dan dipublikasikan pada awal Agustus 2023.
Pengamatan terhadap nebula memberi astronom cara untuk mempelajari masa depan bintang seukuran Matahari. Namun, nasib Bumi dalam rentang waktu tersebut sudah jelas tidak ringan: ketika Matahari mengembang, planet ini diperkirakan tidak akan selamat. Perubahan itu masih miliaran tahun lagi, sedangkan tahapan pasti dan dampaknya terus dipelajari melalui pengamatan serta pemodelan astronomi.