Perum Bulog mencatat stok beras sekitar 4,5 juta ton dan menyiapkannya untuk menjaga pasokan pangan di tengah potensi El Nino serta musim kemarau berkepanjangan. Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyampaikan hal itu dalam kegiatan tasyakuran capaian pengadaan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Kantor Cabang Bulog Surabaya, Sidoarjo, Senin (12/10/2026).
Menurut Rizal, penguatan cadangan dilakukan melalui penyerapan gabah dan beras petani sejak awal tahun. Langkah tersebut dimaksudkan agar pemerintah memiliki persediaan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, termasuk saat produksi beras terpengaruh perubahan iklim.
Stok Bulog sempat mencapai puncak sekitar 5,4 juta ton pada pertengahan September 2026. Angka yang tersedia saat ini berada di kisaran 4,5 juta ton. Rizal menyebut cadangan itu menjadi modal penting untuk mengantisipasi kemungkinan penurunan produksi.
Pengadaan beras melampaui target
Dalam kegiatan di Sidoarjo itu, Bulog menyampaikan realisasi pengadaan setara beras mencapai sekitar 4,112 juta ton. Capaian tersebut melampaui target 4 juta ton atau sekitar 103 persen dari sasaran yang ditetapkan melalui Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2026.
Rizal mengatakan penyerapan hasil panen petani telah dilakukan untuk memperkuat persediaan nasional. Menurut dia, langkah tersebut penting karena pemerintah tidak dapat hanya mengandalkan pasokan dari luar negeri ketika produksi di negara-negara produsen beras juga menghadapi tekanan.
“Kalau kita tidak punya stok beras, apa yang mau dibagikan kepada masyarakat? Kita tidak bisa hanya mengandalkan impor, karena negara lain juga menghadapi kondisi yang tidak mudah,” kata Ahmad Rizal.
Bulog menilai capaian pengadaan itu sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan pangan dan mendukung swasembada beras. Rizal optimistis Indonesia dapat mempertahankan swasembada beras pada 2026 tanpa impor, dengan dukungan stok yang terjaga dan penguatan produksi dalam negeri.
Bantuan pangan dijadwalkan hingga akhir tahun
Pemerintah, kata Rizal, telah memerintahkan penyaluran tambahan bantuan pangan pada Oktober, November, dan Desember 2026. Penyaluran tersebut diharapkan membantu masyarakat sekaligus menjaga stabilitas pasokan dan harga beras saat risiko dampak El Nino menjadi perhatian.
Besarnya stok Bulog bukan satu-satunya ukuran ketersediaan beras nasional. Rizal menjelaskan, perhitungan pemerintah turut memperhitungkan persediaan beras di masyarakat serta proyeksi hasil panen. Dengan demikian, kondisi pasokan perlu dilihat secara menyeluruh, bukan hanya dari cadangan yang dikelola Bulog.
Kebutuhan konsumsi beras diperkirakan sekitar 2,2 juta ton per bulan. Besaran kebutuhan tersebut membuat pengelolaan stok dan penyerapan hasil panen menjadi faktor penting untuk menjaga ketersediaan pangan, terutama ketika kondisi iklim berpotensi mengganggu produksi.
Cadangan jadi bekal menghadapi risiko iklim
El Nino dan kemarau panjang berpotensi menekan produksi pangan. Karena itu, Bulog berupaya menyerap sebanyak mungkin gabah dan beras petani sejak awal tahun. Persediaan yang memadai dinilai dapat membantu pemerintah menjaga penyaluran bantuan apabila produksi mengalami penurunan.
Rizal juga mengapresiasi dukungan Presiden dan berbagai pihak dalam upaya menyerap hasil panen serta memperkuat cadangan pangan. Ia menyebut keberhasilan pengadaan bukan semata capaian lembaga, melainkan bekal untuk menghadapi tantangan pasokan pada periode mendatang.
Ke depan, kecukupan beras akan bergantung pada pengelolaan cadangan, kelancaran penyerapan panen, dan pelaksanaan bantuan pangan. Pemantauan terhadap perkembangan iklim dan hasil produksi juga menjadi penting agar pemerintah dapat menyesuaikan langkah ketika kondisi di lapangan berubah.
Dengan stok Bulog sekitar 4,5 juta ton dan pengadaan yang telah melewati target, pemerintah memiliki persediaan untuk menopang kebutuhan saat ini. Namun, angka tersebut tetap perlu dibaca bersama perkembangan panen dan stok di masyarakat, seiring upaya menjaga pasokan beras tetap tersedia bagi warga.