BMKG memperingatkan potensi hujan sedang hingga sangat lebat di sejumlah wilayah Indonesia pada Jumat, 30 Oktober 2026. Peringatan ini muncul ketika sebagian besar wilayah masih mengalami curah hujan minim dan suhu udara tinggi, tetapi dinamika atmosfer dapat memicu pertumbuhan awan hujan dalam skala harian.
Menurut laporan CNN Indonesia pada Kamis (29/10), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut interaksi El Nino dan IOD positif masih memengaruhi cuaca di Tanah Air. Kondisi tersebut berkaitan dengan minimnya hujan dan terbatasnya tutupan awan pada 26-28 Oktober. Suhu di Lampung dan Sulawesi Tengah pada periode itu tercatat melampaui 37 derajat Celsius.
Gambaran hujan yang rendah secara umum tidak meniadakan peluang hujan lebat di lokasi tertentu. BMKG memperkirakan sekitar 67 persen wilayah Indonesia akan menerima curah hujan kategori menengah, yakni 50-100 milimeter per dasarian, dalam sepekan ke depan. Wilayah yang masuk cakupan tersebut antara lain Lampung, Banten, DKI Jakarta, pesisir utara Jawa, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, serta sebagian Sulawesi dan Maluku.
Dinamika atmosfer dapat memicu hujan harian
Perkiraan dalam skala dasarian menggambarkan akumulasi hujan selama sepuluh hari. Karena itu, kategori menengah untuk suatu wilayah tidak berarti hujan turun merata setiap hari. BMKG tetap mengingatkan adanya peluang hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, disertai petir dan angin kencang, di sejumlah daerah.
Salah satu faktor yang dipantau ialah Madden-Julian Oscillation atau MJO. Fenomena ini diperkirakan memengaruhi wilayah barat dan selatan Indonesia. Di bagian timur, Gelombang Kelvin diprakirakan aktif. Perbedaan pengaruh antarkawasan itu membuat potensi hujan tidak seragam di seluruh negeri.
Pola angin regional juga mendapat pengaruh dari Bibit Siklon Tropis 91B di Laut Andaman dan sirkulasi siklonik di Laut Natuna. Gabungan pola angin dan dinamika atmosfer tersebut berpeluang membentuk zona konvergensi serta perlambatan kecepatan angin. Keadaan itu mendukung pertumbuhan awan konvektif yang dapat menghasilkan hujan.
BMKG menekankan, potensi hujan signifikan dalam jangka harian tetap perlu diperhatikan meskipun perkiraan akumulasi dalam skala lebih panjang berada pada kategori rendah hingga menengah di sejumlah kawasan. Perbedaan rentang waktu ini penting bagi warga: keadaan yang relatif kering selama beberapa hari tidak otomatis menutup kemungkinan hujan deras pada hari tertentu.
Risiko banjir dan longsor tetap perlu diantisipasi
Imbauan kewaspadaan juga terkait dampak hidrometeorologi, terutama banjir dan longsor. BMKG meminta mitigasi tetap disiapkan di wilayah yang berpeluang mengalami hujan. Peringatan tersebut relevan bagi daerah yang masuk dalam cakupan hujan menengah maupun lokasi yang dapat terdampak pertumbuhan awan konvektif.
Informasi kondisi cuaca perlu dibaca bersama rentang waktu prakiraan dan wilayah yang disebutkan. Angka curah hujan dasarian memberi gambaran umum, sedangkan peringatan hujan sedang hingga sangat lebat berfokus pada peluang kejadian harian. Keduanya bukan prakiraan yang saling bertentangan, melainkan menjelaskan skala yang berbeda.
Perkembangan atmosfer masih dapat berubah. BMKG memantau pengaruh MJO, Gelombang Kelvin, dan pola sirkulasi di sekitar Laut Andaman serta Laut Natuna yang berpotensi mendukung pembentukan awan hujan. Warga di wilayah yang diperkirakan terdampak diminta mencermati pembaruan prakiraan dan mengantisipasi risiko banjir maupun longsor.