Enam dari tujuh saham perusahaan sawit yang dipantau di Bursa Singapura melemah dalam sebulan terakhir, saat otoritas Singapura meminta keterangan perusahaan terkait kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Koreksi terdalam tercatat pada Bumitama Agri, dengan penurunan 22,64 persen.
Data yang dipaparkan CNBC Indonesia menunjukkan tekanan tidak hanya terjadi pada Bumitama. TSH Resources turun 21,51 persen dan First Resources terkoreksi 18,04 persen dalam periode yang sama. Namun, angka tersebut belum dapat dianggap sebagai akibat langsung pemeriksaan pemerintah Singapura, sebab rentang pengukuran dimulai sebelum surat permintaan informasi diterbitkan.
Enam saham melemah dalam sebulan
Tujuh perusahaan yang dibandingkan adalah Bumitama Agri, TSH Resources, First Resources, Golden Agri-Resources (GAR), Wilmar International, Indofood Agri Resources, dan Kencana Agri. Perusahaan-perusahaan tersebut tercatat di Singapore Exchange (SGX) dan memiliki kegiatan usaha sawit di Indonesia.
Selain tiga saham dengan koreksi terbesar, GAR turun 14,06 persen dan Wilmar International melemah 9,42 persen selama sebulan. Indofood Agri Resources menjadi satu-satunya saham yang tidak berubah pada periode bulanan tersebut. Data yang tersedia tidak merinci angka perubahan bulanan Kencana Agri.
Jika dihitung dengan bobot yang sama untuk setiap perusahaan, rata-rata pergerakan harga tujuh saham itu mencapai minus 14,72 persen dalam sebulan. Perhitungan tersebut merupakan rata-rata sederhana, bukan ukuran yang memperhitungkan besarnya nilai pasar masing-masing emiten.
Tekanan juga terlihat dalam pengamatan mingguan, meski jumlah saham yang melemah lebih sedikit. Lima saham turun dan dua lainnya tidak berubah. Kencana Agri mencatat penurunan paling besar dalam sepekan, yakni 9,09 persen. Bumitama Agri turun 5,20 persen, Wilmar 3,54 persen, dan GAR 1,79 persen.
TSH Resources tercatat tidak bergerak dalam periode mingguan. Akan tetapi, harga yang stagnan itu perlu dibaca bersama aktivitas perdagangannya: volume saham TSH Resources di SGX tercatat nol pada setiap sesi perdagangan dari 21 hingga 28 Oktober. Dengan transaksi yang tidak terjadi, perubahan harga tidak cukup untuk menggambarkan respons aktif investor.
NEA meminta dokumen dari 10 perusahaan
Pemeriksaan yang menjadi perhatian pasar berkaitan dengan kabut asap lintas batas. Pada 23 Oktober 2026, Badan Lingkungan Nasional Singapura (NEA) meminta dokumen dan informasi dari 10 perusahaan. Permintaan itu mencakup hubungan antarperusahaan, lokasi konsesi, serta upaya pencegahan dan penanganan kebakaran di Indonesia.
Jumlah penerima surat lebih besar daripada tujuh emiten yang masuk dalam perbandingan saham karena sebagian penerima merupakan entitas anak. Golden Agri International, misalnya, berada dalam kelompok GAR. Sementara itu, TSH Global Plantation dan TSH Oversea merupakan bagian dari kelompok TSH Resources.
Pada 28 Oktober 2026, pimpinan perusahaan yang terkait dengan pemeriksaan bertemu tiga menteri Singapura. Pemerintah meminta pemeriksaan independen atas operasi, hubungan korporasi, dan rantai pasok. Penelusuran tersebut dimaksudkan untuk menguji kemungkinan keterkaitan perusahaan dengan kebakaran yang menyebabkan kabut asap.
Permintaan informasi dan pemeriksaan independen itu belum berarti perusahaan-perusahaan yang diperiksa telah dinyatakan bersalah. Prosesnya masih berfokus pada pengumpulan keterangan dan penelusuran hubungan kegiatan usaha dengan kebakaran.
Pergerakan saham tak bisa dilekatkan pada satu isu
Rentang penurunan bulanan mencakup waktu sebelum NEA mengirimkan surat dan sebelum pertemuan dengan para menteri Singapura berlangsung. Karena itu, angka tersebut merekam kinerja saham selama periode pengamatan, tetapi tidak memisahkan pengaruh kabar karhutla dari sentimen pasar lain.
CNBC Indonesia juga mencatat rata-rata sederhana perubahan mingguan ketujuh saham berada di minus 3,18 persen. Angka itu memberi gambaran tekanan jangka pendek, tetapi perbedaan aktivitas transaksi antarperusahaan membuat pergerakan masing-masing saham perlu dibaca secara terpisah.
Bagi investor, perkembangan pemeriksaan menjadi informasi yang patut dipantau, tetapi data harga saja belum menjelaskan penyebab koreksi. Tahap berikutnya adalah melihat hasil penelusuran independen serta informasi lanjutan dari perusahaan dan otoritas Singapura mengenai operasi dan rantai pasok mereka.