IHSG kehilangan 184,26 poin pada perdagangan Kamis, 29 Oktober 2026, dan ditutup di level 5.098,06. Pelemahan 3,49 persen itu terjadi saat rupiah justru menguat dan imbal hasil obligasi pemerintah menurun. Perbedaan arah antarpasar tersebut menjadi bekal penting bagi investor menjelang perdagangan Jumat.
Tekanan di bursa saham berlangsung sejak pagi. Indeks sempat dibuka menguat tipis pada 5.305,20 dan bergerak ke kisaran 5.320-an, tetapi tak lama kemudian berbalik turun. Menjelang penutupan, IHSG kembali melemah dan berakhir dekat titik terendah hari itu.
CNBC Indonesia melaporkan, nilai transaksi saham mencapai Rp11,3 triliun dengan volume 23,3 miliar saham. Sebanyak 624 saham turun, sedangkan 98 saham menguat dan 70 lainnya tidak berubah. Investor asing membukukan jual bersih Rp1,08 triliun.
Saham berkapitalisasi besar menekan indeks
Penurunan IHSG tidak hanya tercermin dari banyaknya saham yang terkoreksi. Sejumlah emiten berkapitalisasi besar ikut memberi beban berat pada indeks, termasuk PT Bank Central Asia Tbk. Saham BBCA turun 6,35 persen ke Rp4.940 per lembar, dengan kapitalisasi pasar Rp602,8 triliun.
Tekanan juga menjalar ke saham PT Astra International Tbk., PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk., dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Ketika saham-saham besar bergerak turun bersamaan, ruang bagi indeks untuk bertahan menjadi terbatas. Pada penutupan Kamis, IHSG gagal mempertahankan level psikologis 5.100.
Dari sisi sektor, utilitas mengalami koreksi terdalam, yakni 5,99 persen. Jasa pendidikan turun 4,60 persen, sementara bahan baku melemah 4,02 persen. Sebaran pelemahan itu memperlihatkan bahwa tekanan tidak hanya terkonsentrasi pada satu kelompok saham.
Pergerakan hingga menit terakhir juga menunjukkan bahwa upaya pemulihan sepanjang sesi belum cukup membalikkan keadaan. IHSG sempat bergerak dalam rentang 5.125 hingga 5.175 pada siang sampai sore, tetapi tekanan jual kembali muncul menjelang penutupan. Bagi investor, perkembangan di saham berkapitalisasi besar dan arus transaksi asing menjadi bagian yang patut dicermati pada sesi berikutnya.
Rupiah dan obligasi bergerak berlawanan
Di pasar valuta asing, rupiah ditutup menguat 0,28 persen menjadi Rp18.125 per dolar AS. Pada perdagangan sebelumnya, Rabu, mata uang Indonesia berada di Rp18.175 per dolar AS. Penguatan itu terjadi setelah rupiah sempat mencatat penutupan terlemah sepanjang masa pada hari sebelumnya.
Indeks dolar AS, yang mengukur posisi mata uang tersebut terhadap enam mata uang utama, berada di 102,188 pada pukul 15.00 WIB. Angka itu turun tipis 0,01 persen. Sementara itu, imbal hasil Surat Berharga Negara tenor 10 tahun turun dari 7,706 persen menjadi 7,643 persen.
Penurunan imbal hasil menandakan harga obligasi bergerak naik. Namun, imbal hasil SBN tersebut masih berada di sekitar tingkat tertinggi dalam enam tahun terakhir. Jadi, perbaikan pada rupiah dan obligasi belum menghapus tekanan yang tercermin di pasar saham.
Perbedaan ini membuat gambaran pasar domestik tidak seragam. Rupiah dan SBN memberi sinyal yang lebih baik pada Kamis, sedangkan saham menghadapi aksi jual besar. Pergerakan Jumat akan memperlihatkan apakah perbaikan di dua pasar itu bertahan dan apakah tekanan pada saham berkapitalisasi besar berlanjut.
Wall Street ikut tertekan laporan emiten
Pasar Amerika Serikat juga ditutup melemah pada Kamis, atau Jumat dini hari waktu Indonesia. Nasdaq Composite turun 1,38 persen ke 26.184,72, sedangkan S&P 500 terkoreksi 0,3 persen menjadi 7.720,39. Penurunan S&P 500 sekaligus menghentikan penguatan selama tiga hari beruntun. Dow Jones melemah 132,54 poin atau 0,25 persen ke 52.342,56.
CNBC Indonesia mengaitkan tekanan Wall Street dengan laporan keuangan sejumlah perusahaan yang tidak memenuhi harapan investor. Saham Alphabet jatuh 12 persen setelah laba per saham yang disesuaikan dan pendapatan kuartal ketiga 2026 berada di bawah perkiraan analis. Perusahaan itu juga mencatat arus kas bebas negatif US$9,07 miliar, meski mempertahankan proyeksi belanja modal tahun ini pada kisaran US$195 miliar hingga US$205 miliar.
Caterpillar merosot lebih dari 9 persen, kendati pendapatan dan labanya melampaui ekspektasi. Penjualan divisi industri konstruksi yang sedikit di bawah perkiraan menjadi salah satu perhatian pasar. Microsoft juga berakhir sedikit lebih rendah setelah sempat menguat. Hasil kuartal fiskal pertamanya, yang berakhir pada September, melampaui estimasi analis, tetapi proyeksi belanja modal perusahaan memicu kekhawatiran mengenai waktu penyediaan kapasitas pusat data oleh mitra infrastrukturnya.
Saham CoreWeave turun sekitar 5 persen dan Nebius terkoreksi lebih dari 5 persen. Pergerakan di Amerika Serikat menjadi salah satu perkembangan eksternal yang akan diperhatikan pelaku pasar Indonesia. Namun, arah perdagangan domestik berikutnya masih perlu dilihat melalui respons investor terhadap saham-saham besar, rupiah, dan SBN pada Jumat.