Penurunan tajam saham teknologi global mulai terasa di luar sektor kecerdasan buatan. Harga tembaga dan timah ikut melemah, sementara saham sejumlah perusahaan tambang Indonesia terkoreksi pada perdagangan Jumat, 6 November. Tekanan ini menambah risiko bagi emiten yang bergantung pada permintaan logam untuk menopang pembangunan infrastruktur AI.
Stockbit Snips mengaitkan gejolak pasar dengan kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela Amerika Serikat. Hasil itu memicu perkiraan bahwa regulasi industri AI bisa diperketat. Selama ini, Presiden Donald Trump mendukung ekspansi sektor tersebut dan pernah menyebut kekhawatiran mengenai keamanan AI sebagai “hoax”.
Partai Demokrat, sebaliknya, mengangkat persoalan dampak AI terhadap masyarakat, termasuk kebutuhan listrik dan air yang besar untuk mengoperasikan pusat data. Kekhawatiran terhadap biaya dan penggunaan sumber daya itu ikut membayangi prospek bisnis perusahaan teknologi.
Penurunan saham teknologi menjalar ke Asia
Pada Kamis, 5 November, Nasdaq merosot 6,4 persen. Menurut Stockbit Snips, penurunan itu merupakan yang terdalam sejak Maret 2020. Indeks semikonduktor SOX jatuh lebih besar, yakni 12 persen, menandakan tekanan yang kuat pada perusahaan pemasok komponen untuk industri teknologi.
Gejolak berlanjut ke pasar Asia. Indeks Kospi Korea Selatan sempat kehilangan 8,8 persen pada Jumat hingga perdagangan dihentikan sementara. Indeks itu kemudian pulih sebagian dan ditutup turun 5,3 persen. Taiex Taiwan juga melemah 3,2 persen.
Namun, koreksi tidak merata. Bloomberg, seperti dikutip Stockbit Snips, mencatat indeks saham India naik hampir 7 persen dalam sepekan. Pasar India dinilai lebih terlindung dari aksi jual saham AI karena perekonomiannya banyak ditopang kegiatan domestik. Penurunan harga minyak juga menjadi faktor yang menguntungkan.
Kemenangan Demokrat turut memperbesar ekspektasi bahwa perang Iran dapat berakhir lebih cepat. Jika hal itu terjadi, harga minyak berpotensi mendapat tekanan lanjutan. Bagi negara yang lebih mengandalkan permintaan dalam negeri, seperti India dan Indonesia, kombinasi tersebut dapat menjadi penopang relatif apabila sentimen negatif terhadap AI terus berlangsung.
Tembaga dan timah ikut kehilangan tenaga
Investor tidak hanya melepas saham teknologi. Logam yang digunakan dalam rantai pasok industri AI juga terkena imbas. Harga tembaga turun 1,2 persen pada Kamis menjadi 13.843 dollar AS per ton. Dalam sepekan, harganya telah merosot 3,6 persen dan menyentuh posisi terendah sejak Juli.
Timah mengalami tekanan lebih besar dalam rentang mingguan. Harganya turun 3,2 persen pada Kamis dan tercatat melemah 8,5 persen selama sepekan. Pelemahan tersebut memperlihatkan bagaimana kekhawatiran atas laju investasi AI dapat memengaruhi komoditas yang dibutuhkan untuk membangun teknologi pendukungnya.
Dampaknya terlihat pada saham tambang Indonesia. Pada Jumat, IHSG justru menguat 0,4 persen dan mencatat pembelian bersih investor asing sekitar Rp329,3 miliar. Meski indeks naik, saham Amman Mineral Internasional atau AMMN turun 1,1 persen, Merdeka Copper Gold atau MDKA melemah 5,2 persen, sedangkan Timah atau TINS terkoreksi 2,6 persen.
Pergerakan berbeda antara indeks dan saham tambang menggambarkan bahwa tekanan pasar tidak menyebar dengan intensitas yang sama. Namun, bila harga tembaga dan timah terus turun, prospek perusahaan yang terpapar langsung terhadap kedua komoditas itu dapat ikut terbebani. Perkembangan permintaan logam dan arah belanja perusahaan teknologi akan menjadi perhatian investor berikutnya.
Imbal hasil tinggi belum otomatis menarik modal asing
Risiko bagi pasar Indonesia juga datang dari biaya pendanaan. Stockbit Snips mencatat imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun ke 4,84 persen, sedangkan yield obligasi pemerintah Indonesia tenor serupa masih berada di 7,74 persen. Yield SBN tersebut bahkan sempat mencapai tingkat tertinggi dalam empat tahun.
Selisih imbal hasil yang lebar tidak serta-merta berarti investor global sedang berbondong-bondong membeli obligasi Indonesia. Investor menghitung potensi keuntungan setelah mempertimbangkan risiko, termasuk pergerakan rupiah, kondisi fiskal, kebutuhan pembiayaan pemerintah, inflasi, suku bunga, serta premi risiko negara. Karena itu, yield yang tinggi dapat mencerminkan tuntutan kompensasi yang lebih besar.
Kondisi tersebut berpotensi membatasi aliran dana asing ke saham, menambah tekanan jual, dan menurunkan daya tarik saham dengan valuasi tinggi. Bagi pemerintah, biaya utang yang mahal juga dapat mempersempit ruang fiskal. Stockbit menyarankan investor memantau yield Treasury dan SBN, nilai tukar rupiah, arus dana asing, serta CDS Indonesia tenor lima tahun untuk membaca perubahan risiko pasar.